Plastik Di Tengah Hujan

Diluar hujan,
Aku selalu suka petrichor di tiap permulaan sebelum sepenuhnya titik hujan membauri tanah
4.33 pm

Seperti milennial pada umumnya, tiap detik gadget selalu menempel di tangan,mungkin tinggal menunggu menyatu dengan kulit. Apalagi membersamai hujan yang tempiasnya mengetuk-ngetuk sepatu, dingin-sedingin es kotak yang kubeli di alun-alun kota jika aku sempat pergi pada minggu pagi. Karena aku pulang dengan jalan kaki, dan aku tak pernah acuh untuk mengecek ramalan cuaca pagi hari, payungku merasa terkhianati-mungkin, aku meninggalkannya di dekat almari.

Notifikasi datang silih berganti, mulai dari operator paket data yang kurang perhatian, apa pula mbak-mbak oa admin yang membuka lowongan pekerjaan, duh! ada juga grup kelas yang menanyakan pe er tadi waktu pelajaran. Ah tak urusan! Karena wi fi di sekolahku lumayan, ya bisa lah yaa kumanfaatkan untuk membuka instagram-yang kata banyak orang (termasuk diriku sendiri) boros paketan-apalagi untuk stalking mantan.

Ada postingan yang bikin aku tersadar, betapa parah memang, monster bernama plastik ini,
Kenapa plastik?

Pertama, karena 'penting'nya si plastik ini buat kita umat manusia, entah plastik buat bungkus roti, baju, atau sayuran yang kalau kau beli di supermarket harganya bakal jauh berbeda dengan yang emakku beli di pasar pagi"
Pokoknya candu, dikit-dikit plastik, apa-apa plastik, cobalah kita cek hari ini sudah 'memproduksi' sampah berapa biji?
Sampah plastik wadah es teh beserta sedotan plastik warna-warni yang kau beli di kantin dengan desak-desakan karena bel istirahat segera berdentang? Kantung plastik belanjaan saat kau mampir di supermarket hanya untuk beli air mineral-yang botolnya juga dari plastik-? Plastik bungkus permen lima ratusan yang kau buang dekat trotoar jalan? Dan semua atribut ataupun bentuk konsumsi yang mengandung plastik tiap harinya, aku yakin, lebih dari duapuluh satuan plastik yang bisa kita 'produksi' dalam sehari.

Lantas pernah coba hitung-hitungan? Kita coba saja, satu sedotan plastik yang kita anggap biasa saja, kita anggap sudah kebutuhan pokok jika kita pesan es jeruk di warung bakso yang buka tiap sore di pinggir jalan dekat perempatan, sedotan itu bisa bertahan selama lebih dari 100 tahun. Dan kalau difikir-fikir lagi umurnya bahkan lebih lama dari kita pada umumnya, mungkin sedotan yang baru kemarin kamu buang di deket jalan itu ketemu sama sedotan yang lima puluh tahun lalu dibuang oleh nenek nenek buyutmu, bisa kan?

Itu baru sedotan plastik,
Kantung plastik dan saudara-saudaranya apa kabar?

Kemarin kemarinnya kemarin, temanku sharing tentang terindikasinya mikroplastik di laut Indonesia, sebagai manusia Indonesia yang masih kekurangan ilmu yang berusaha menjadi warganet yang baik, aku searching ke portal informasi, dan memang benar mikroplastik memang sebuah monster kecil yang memegang andil besar,

Dikutip dari Beritagar.id
"Sebanyak 39 merek garam meja rumahan di 21 negara, kontaminasi mikroplastik di 10 negara Asia tercatat paling tinggi. Indonesia menduduki peringkat nomor wahid.
Demikian temuan studi baru dalam jurnal Environmental Science and Technology yang dirilis pada 4 Oktober 2018 lalu.
Penelitian ini dihelat tim dari Incheon National University di Korea Selatan berkolaborasi dengan Greenpeace Asia Timur."

Itu baru satu sumber, dan bisa dibayangkan sudah lebih dari ratusan postingan dan informasi yang menjelaskan lebih lanjut tentang plastik dengan ukuran yang super mikro ini, dan dampaknya terhadap lingkungan juga kehidupan, salah satu yang miris yaitu populasi penyu turun drastis karena tubuhnya terkontaminasi sampah mikroplastik ini, miris, bagaimana  bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup dikelilingi plastik yang mengancam hidupmu!
Belum lagi beberapa tahun yang akan datang bahkan, sampah plastik di lautan jika ditotal bisa melebihi jumlah ikan di lautan,
Lantas saat kita dewasa kita hendak makan apa? Plastik? Kemudian dimana dan dengan siapa kita akan hidup? Plastik?

Tamparan keras mendarat di pipi,pipiku merah, malu, kepada diriku sendiri, kepada sepersekian orang yang dengannya berjuang demi kelestarian lingkungan bersama, kepada keegoisan yang muncul mengambang dalam diri, kepada sedotan pagi tadi yang aku buang-apalagi buangnya sembarangan,

Kemudian bagaimana?
Jujur diriku sendiri masih belum bisa keluar dari 'zona plastik' apalagi di tanah air Indonesia ini sendiri, jujur diri sendiri masih belum peduli kepada lingkungan, jujur jujur dan jujur masih banyak alasan setebal kamus yang bisa dijadikan tameng untuk tetap berada pada posisi masa ini, posisi untuk tetap nyaman dengan segala bencana kehidupan yang sebenarnya kita sebabkan,
Tapi kemudian kita memiliki hak prerogratif tiap detik yang berantai panjang hingga masa depan,

Hari ini, setelah membaca tulisan ini, kita bisa saja tetap acuh tak peduli, tetap meneruskan kehidupan kita seperti sebelum-sebelumnya, kita tetap hidup seperti itu terus hingga tua, dan bisa jadi besok nanti kita dikebumikan, tapi yang menutup kita bukan tanah seperti pada umumnya,tapi plastik,plastik buangan kita,
Atau kita bisa mulai demi sedikit, entah mulai dari mana, mulai memesan es jeruk tanpa sedotan di warung bakso tepi jalan dekat perempatan, atau menyimpan roti bungkusan lima ribuan itu di kantung tas depan, alih alih menggunakan kantung plastik gratis dengan cap swalayan, atau membawa botol minum isi ulang kemana saja, bahkan ke kebun binatang juga,

It's depend on you
Tulisan ini hanyalah tulisan jika tiap kesadaran kita masih kita kekang, tulisan ini hanyalah tulisan sebagai pengingat diri sebagai manusia yang makin lama makin pudar kemanusiaannya,

Yogyakarta, 8 November 2018

Komentar