Sesuatu yang berubah, suatu keniscayaan.
Hari ini hujan. Mendulang angin dan badai yang tengah kencang-kencangnya. Sudah beberapa waktu kebelakang ia minta tumbal. Lalu dua orang manusia (bapak beserta anaknya) direnggut di suatu jalan dekat kampus ternama di Jogja. Hujan kali ini membawaku pada salah satu kafe di bawah bangunan oleh-oleh terkemuka Jl. Rejowinangun, Gedongkuning. Aku berharap untuk berteduh pada nostalgia delapan tahun silam. Kehangatannya dan juga jejak-jejak yang aku tinggalkan. Melewati basement, aku parkiran motor. Pada tiang-tiang interior luar aku masih kenal betul atas mural dengan spray paint Anagard, ketjilbergerak dan dagingtumbuh-nya Mas Eko. Tak sabar aku menghirup kembali wangi kopi arabika yang jadi ciri utamanya. Pintu kubuka perlahan. Putih. Aku seperti bangun dari koma panjang dan menemui diri pada plafon putih. Jembatan atas batas ambang kesadaran. Kedai telah menjadi entitas baru dengan plafon putih sepenuhnya. Tak ada gambar manual dengan kapur untuk menu di belakang bar barista...
