Kepada Ketakutan, Yang Beralamat Pada Ketidak-tahuan

 Sudah tiga hari aku gamang dan mengawang-awang. Entah, sepertinya ada yang belum terproses dalam mekanisme digest yang berjalan di kepala-hati-badan. Sudah sejak lama aku menyadari bahwa mekanisme tubuhku selaras, ketika ada yang mengirimkan sinyal hambatan, maka sistem yang lainnya juga berpengatruh demikian, semacam ekosistem yang saling berkaitan. Tiga hari nafsu makan tanggal dan bersembunyi, genap tiga hari pula dentum di kepala sebelah kiri mendendangkan lagu kesukaannya kini, tiga hari tubuhku seperti batang kangkung yang dihidangkan dalam seporsi cah kangkung di warung masakan cita rasa pranakan. Sudah tiga hari pula aku menekuri entri jurnal akhir-akhir ini yang tak pernah kuselesaikan tulisannya, carut marut dan tak selesai. Tak selesai. Pada jurnal tanggal 30 Desember hanya ada entri oddity


Kadangkala muara dari pertanyaan-pertanyaan perihal ketakutan tak melulu jawabannya kecoa, reptil, ruang sempit atau hantu. Bagiku, itu hal abstrak yang bernama ketidaktahuan. Tidak tahu, tidak paham. Aku merasa dilucuti, tidak tahu apa-apa tentang hal-hal, orang-orang ataupun bentuk-bentuk yang kusayangi menyiksaku, ketidakberdayaan itu yag kurasakan. Tapi memang bukanlah itu asa dari ketakutan?

Ketakutan bisa bersumber dari berbagai hal, pengalaman dan gambaran (akan masa depan), tapi yang dirasakan adalah ketiadaan kuasa atas sesuatu. Mungkin reaksinya dapat bermacam, teriak, lari, lawan atau mematung dan tak dapat berbuat apa-apa. Sesuatu yang orang akan lakukan sebagai salah satu strategi untuk melindungi dirinya. Self Defense. Dari pengalaman yang kumiliki, lebih banyak tubuhku meresponnya dengan buffering. Cannot fully function. Seperti gerigi di kepalaku stuck, dengan kepala sebelah kiri berdenyut-denyut. 

Sayangnya, ruang dan waktu sudah siap menggilasku. Tiada yang pernah berhasil merayu waktu-kecuali di beberapa kesempatan yang dilakukan bersama-sama. Maka mediasi kepada ketakutan harus diupayakan. Mencoba mengenali ulang, relearning bagaimana-bagaimana yang bisa kulakukan secara sadar. Bukankah itu yang namanya menjadi manusia yang tak akan pernah sempurna? 

Menjadi lemah, tidak tahu, tidak punya kuasa atas sesuatu, tidak sempurna itu artinya menjadi manusia. Menyadari ketidaktahuan itu suatu pekerjaan sendiri. Sadar. Memeluk ketakutan yang menjadi bagian dari diri kita. Oh, perasaan siir yang tak pernah kita jumpai maknanya. Perdamaian dalam diri yang terasa seperti hujan yang terus meluncur deras pada ujung-ujung jari. Basah. 

Kalau memang yang bisa dilakukan untuk memeluk ketakutan ialah dengan berdamai dengannya, maka harus ia disertai sabar yang tak pernah selesai masa tugasnya. Suatu prasyarat yang terdengar hil mustahil, karena kerap mendengar sabar ada batasnya, bukankah masa kedaluwarsa sabar yang tak terbatas berarti kelakar belaka? 

Ah, sayangku, terjalnya mengikhlaskan ketidaktahuan  bukan berarti mustahil bukan? 

(Turut larut pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah menemukan jawabannya-beberapa mengandung ketakutanku-pada hujan bulan Desember yang turun di sela-sela harapan dan doa-doa menutup tahun ini, mengalir menyesap ke tanah dan hilang dari pandangan, yang tak tahu aku, ke mana ia bermuara)



Bantul, 

31 Janurai 2024

Komentar

Postingan Populer