Ayo Iri !!
Langit terlalu biru, dengan gumpalan awan kapas mengambur, menyampaikan angan angan bawaan yang entah bisa kusuratkan pada siapa,
Dan aku, memilih menyuratkannya padamu :)
-terik, 09.45
Hai 👋
Masih percaya kalau SDM Indonesia rendah?
Kalau aku masih, walaupun berita" tentang medali kejuaraan dan penghargaan yang terus-menerus membuat masing" dari kita husnuzan soal negeri kita ini-ini baik, terlalu baik malahan menurutku, karena sejatinya proses meraih sebuah hasil itu merupakan perjuangan yang patut dibanggakan, apalagi untuk kita, sebagai bangsa Indonesia
Tapi, apakah kita benar" merasa sebangga itu?
Lantas rasa bangga kita apakah hanya sebatas bangga sebagai pemakai nama 'bangsa Indonesia' sebagai embel-embel itu?
Karena, pada kenyataanya banyak dari kita, bahkan mungkin aku sendiri, masih merasakan kebanggaan atas sebuah-katanya-ikatan saudara dengan para pemilik hak paten skala internasional, peraih medali" emas olimpiade kelas atas ataupun penari dan atlet yang langsung berjabat tangan langsung oleh pettinggi dunia, itu, sebatas pakaian kebanggaan saja,
Lantas harusnya bagaimana?
Kalau aku berusaha iri,
Iri bagaimana bisa mereka" yang jadi kebanggaan bangsa, pada saat seumuran aku ini mereka bisa melakukan ini-itu, pada saat seumuran ini, mereka sudah ada konstribusi untuk negeri,
Sedang diriku?
Percaya tidak, jika sebenarnya kapasitas orang sama, tapi dengan kecenderungan yang berbeda,
Namun, hal ini bukanlah hal yang bisa dijadikan alasan mengapa saat ini kita masih saja mendalihkan kemampuan dan bakat orang itu berbeda, kemudian memaklumkan diri sendiri atas sumbangsih nol bagi negeri-kecuali sampah sisa jajan cilok pagi tadi,
Pernah tau seberapa jauh jerih payah mereka? Bahkan dengan,mungkin kata orang,kemampuan mereka yang berbekal dari lahir
-bullshit, tidak ada orang yang lahir langsung bisa mencetak gol pada final piala dunia-
mereka masih saja terus berusaha, terus mengasah dan terus memperjuangkan bibit dalam dirinya,
Kita bagaimana? Sudahkah kita percaya pada bibit kita, menjaga serta merawatnya dengan baik?
Kemudian banyak tapi-tapian,
"Tapi kan Si A, dia les menari, tak heran dia menang lomba"
"Tapi kan dia ada fasilitas"
"Tapi kan, dia dasarnya pintar"
"Tapi, dia mah emang dari dulu kayak gitu, orang tuanya aja begituu"
"Tapi, mana bisa aku seperti itu?"
Dan banyak lagi tapi-tapian yang mungkin jika kau kamuskan lebih tebal dibanding Kamus Besar Bahasa Indonesia yang beratnya nggak ketulungan,
Lantas kemudian kita iri pada fasilitas mereka, pada faktor pendukung mereka, bukannya pada kesungguhan, niat dan usahanya,
Sekali lagi, perlu dipertegas,
Ayo iri pada prestasi orang lain, tapi jangan berkeinginan merebut sosoknya, karena kita bukanlah kita jika selalu menuntut diri sendiri jadi sesosok 'dirinya', biarlah hidupmu menjadi dirimu, dan prestasimu
Oh iya, bagi teman"ku yang masih belum percaya pada bibit yang ada dalam dirimu, mengapa kau tidak mencoba memberinya pupuk, menyiraminya, dan menunggu pohon apakah yang akan keluar besok nanti?
Karena apakah dengan menunggu saja tanpa usaha kau bisa menikmati buahnya?
Tidak ada yang namanya terlambat mencoba, dan kata 'tidak bisa'
Ini masalah percaya atau tidaknya, kau sejatinya diberi bibit terbaik :)
Untuk kita saja, apakah eksistensimu sebagai penerus bangsa telah berbau?
Jikalau belum jua, mari kita mulai bersama
Tak perlu menunggu esok atau lusa
Karena tiap detik milik kita, harta paling berharga
Ayo, aku menyuratkan ini untuk semuanya
Bukan demi menyosokkan opini dan pendangan saja
-di luar sana, masih tetap terik meski awan berusaha menghalangi matahari,
Yogyakarta, 18 November 2018
Intinya aku sukak tulisanmu😘
BalasHapusTerimakasih atensinyaa :))
Hapus