Sore dalam Cerita
3.24 pm
-derak rem bus transjogja,yang kerap dikembarkan dengan tayo itu,mendecit-decit, telingaku mengerit.
Meski sering oleng tiap pak sopir selesai memampirkan busnya di pinggir halte, aku masih gemar mengarungi jalanan menggunakan transportasi publik, terlebih yang berwujud bus ini, entah bus patas, ber-AC, dan kekawanannya,
-Besok-besok akan kukabarkan bagaimana bisa aku senang dengannya
Sore itu matahari masih hangat menerobos sela kisi-kisi jendela bus berbadan biru, badanku terguncang, pening jika aku melanjutkan bacaan, buku Nh.Dini dengan bercak berumur di sana-sini kututup masygul, guncangan badan bus membuatku tak berselera memahami,
Seorang kakek renta dengan kulit termakan usia, yang sebetulnya masih gagah dengan jaket putih-biru tua bercapkan Angkatan Udara, tertarik dengan bacaanku,
Aku menjawab dengan krama sebisaku, hangat, obrolan kami seperti sesosok cucu dengan kakeknya yang sedang berangkat tamasya,
Ujarnya, beliau sedang keliling kota, sendiri menggunakan transjogja, 3 pekan yang lalu, atas ihwal penyakit jantung berkelanjutan, istrinya tiada, anak-anaknya semua telah berkeluarga pun bekerja di luar jawa. Tinggal ia sebatang kara.
Juga katanya, ia suka berkeliling kota dan berenang-pada masanya.
Sambal kacang satai juga merupakan favoritnya.
"Bapak turun dimana?"
Beliau menjawab lima pemberhentian setelahnya, aku memangut-mangut, menyimak cerita kakek ini beserta lanjutannya.
Beliau kemudian memberikan alamat lengkap, beserta nomor telefon rumahnya
Sebentar,
Aku kemudian tertegun, bagaimana bisa seorang kakek renta pensiunan Angkatan Udara memberikan alamat rumah dan nomor telfonnya secara cuma-cuma??!
Jangan-jangan aku akan kena tipu?! Atau akan diculik bersamanya?, rasa was-was menyelinap dibalik kucuran keringat dingin di pelipis. Dizir kulafalkan berkali-kali, berharap kejadian yang tidak-tidak tak terjadi.
" Kalau senggang kamu bisa cerita-cerita ke bapak yaa.."
Sekali lagi, beliau mengulang digit nomor telfonnya,
Aku mengangguk sambil tersenyum-sesekali mengeluarkan suara melegakan baginya, gerik tubuhku agak sungkan.
Pemberhentian selanjutnya tempatku turun, aku menangguk, mengisyaratkan pamitan pada sang kakek pensiunan, beliau mengangguk dan tersenyum kepadaku, aku berlalu.
Aku tetap merapal zikir, mencerna lima belas koma tigapuluh menit yang kulalui tadi. Mana ada penjahat yang memperlakukan mangsanya seperti cucu kesayangan yang jarang pulang. Sirat matanya gembira tiap aku mengangguk menjawab perkataannya, juga nadanya yang berwibawa macam guru mewejangi muridnya.
Yang kulihat adalah, sesosok kesepian tanpa arah dan tujuan yang perlu teman duduk kala senggang, menghabiskan sore dengan teh juga kudapan di halaman depan.
Pelupukku seperti tergenang,
Apa kabar ibu?
Apa kabar Babeh?
-aku turut merasakan bagaimana jika besok tua nanti tak ada seorang yang ada bersamaku untuk dikenang.
Buku Nh.Dini masih ditanganku, aku mempercepat langkahku, guncangan bus tadi masih bersisa di perutku, tak tau lagi aku hanya ingin segera makan indomie.
Jalur 3B-Yogyakarta,
17 Desember 2018
Komentar
Posting Komentar