Tetapi Terlalu Banyak Tetapi

Seseorang-di sela pembicaraan kita suatu sore, oleh kata dan makna, terkadang cerita bersama-memintaku menafsirkan kata "tapi" menurut imaji dan pandangan liarku ini,
Tumben-gumamku-sepersekian detik kemudian, neuron dalam kotak otak saling bersatu-menyimpul-merajut sebuah proyeksi informasi,
-aku kemudian mengangguk padanya,

Bisa dibilang "tapi" tak bermakna, karena bentuk bakunya adalah "tetapi"-sudahlah, toh abang becak dekat perempatan pun tak peduli! Tapi sayangnya aku peduli,

Si "Tetapi"ini bermakna penghubung intrakalimat yang berhubungan pertentangan,
-hayohloh, saling bertentangan saja ada perantara hubungannya!
Paham maksudku kan? ( kalau terlalu pusing dengan kata-kataku,tengok saja KBBI )
....
Contoh ya, ada kalimat berbunyi, "Gadis itu cantik, tetapi sombong."
-disini "tetapi" menunjukkan bahwa frasa awal memiliki sifat yang bertentangan dengan kata terakhir, tapi mereka dalam satu kalimat,

Menurutku 'tetapi' merupakan kata yang sangat krusial, karena kadang alasan selalu mengikutinya sebagaimanapun,
"Aku ingin jadi penulis nih, tapi aku kan nggak punya laptop"
"Aku mau jadi dokter, tapi kan aku masih SMA, santai saja dulu lah..."
"...tapi kan aku pendek"
"...tapi aku masih muda, baru masuk SMA"
"... tapi aku kan inginnya begini"
" Aku ingin begini, aku ingin begitu, ini ini itu banyak sekalii~"

Terlalu banyak alasan, terlalu banyak syarat, terlalu banyak tapi-tapian, hingga fokus kita bukan pada tujuan, malah kekurangan,

Seperti yang pernah aku singgung di postingan #BukanAkademisi sebelumnya, yang berjudul Ayo Iri,
Kita terlalu sibuk memenuhi hidup kita dengan alasan-alasan, iya sih penuh, tapi penuhnya nol besar, ngga ada bobotnya-kayak permen kapas di pasar malam tiap maulid-an.

Kita cenderung mengkambinghitamkan keadaan dan waktu demi pasal yang tak bisa kita kerjakan, demi hasrat yang dikorbankan berujung kemalasan,
Mau sampai kapan?

Lantas?

Kemudian, tinggal kamu mau memilih yang mana,
Akankah kamu menaruh kekuatanmu pada alasan-alasan yang kau tumbuhkan, menyibukkan diri dengan kambing hitam yang kau ternak, yang memamah-biak lapang padang energi untuk maju sejauh mata memandang

Atau menitipkan keyakinan pada kawan lama, impian, yang kau lafalkan tiap sepermilimeter sudut antar jidatmu dan Tuhan bersentuhan, merasuki doa tiap sepertiga malam, juga kau gantungkan lebih tinggi dari tiang jemuran

Jadi, kalau kau ada kesempatan untuk maju, masihkah kudengar kata "tapi" darimu?


Muntilan selepas hujan,
7 Desember 2018
( dengan suntingan )

Komentar

Postingan Populer