Fenomena Setengah Isi
Rabu pagi, biru langit disadur awan tipis kempis. Dengan kantung mata menggelayuti kenyataan akhir bulan.
Masih pukul enam, dan penyakit datang kepagian selalu saja tak bisa kuajak kompromi pagi ini, bahkan saat bahuku terasa tak presisi pada tempatnya, pegal setelah semalaman mencuci. Belum ada yang datang. Bahkan penjaga kebersihan sekolah yang disertai bau parfum pel lantai sekolah yang entah sejak kapan kugemari belum menampakkan diri.
Satu, dua, tiga, lima. Ada sekitaran lima, atau mungkin lebih, botol kemasan air mineral 200 ml bergelimpangan di atas meja, menyebar. Mereka masih setengah isi, bahakan ada yang dua per tiganya. Ada yang tepar sehabis dibuat flip bottle berkali-kali, ada pula yang tak habis diminum oleh sang empunya.
Yah, mau bagaimana lagi. Air yang sudah tak memungkinkan dikonsumsi, entah karena terkocok berkali-kali atau warnanya sudah tak jernih lagi, aku menjadikannya minum bagi tumbuhan di taman depan yang sudah bisa dikategorikan sebagai kebun binatang, entah hutan.
Bukannya mau menghakimi atau sok mengerti, tapi tolonglah, kita hidup diberi kemudahan mengakses air bersih, diberi kemampuan eksploitasi sumber daya yang ada. Kalau aku sendiri tinggal mangap mangap ketika rintik hujan turun, dahaga hilang, besoknya demam. Setidaknya kita tidak merasakan kekeringan terus-terusan sehingga perlu antre sepanjang jalan kenangan untuk mencapai sumber air yang bahkan entah memungkinkan atau tidaknya digunakan. Karena pada faktanya yang nyata banyak dari saudara setanah air saja masih kekurangan air, apalagi air bersih siap konsumsi. Padahal kurang apasih Indonesia?
Laut tak usah dihitung luasnya-karena aku yakin kau keburu musnah di lautan saat mengukur setengah luasnya saja-, kemudian hutan dan tanah subur, gunung gunung sebagai pasak dan punggung. Sejak kapan SDA kia tak termasyhur?
Bersyukur bukan perihal mengucap, tapi mentransformasikan tindak yang dicecap.
Ini serupa dengan kebiasaan tiap lebaran. Aku selalu menantikan hari raya dengan lusinan topeles kaca berisi warna-warninya, juga es sirop dengan bongkahan buah segar maupun soda gembira dan fanta, dan kadang lebih melegakan segelas air mineral yang kutemui dalam kemasan.
Namun sayang, kejadian yang sama masih terulang terus hingga gajah mulai mengurus. Peninggalan peninggalan air mineral gelasan dengan isi masih ada tercecer di sana sini. Hal ini juga kerap aku temukan saat seminar ataupun forum yang diadakan, tak jarang air mineral kemasan, apalagi yang gelasan, terlantar begitu saja dengan isi masih setengahnya.
Mubazir
Sebenarnya cukup sederhana, kita hanya perlu bertanggung jawab dengan langkah yang kita perbuat. Ambil, buka dan habiskan, atau tidak sama sekali. Sebelum ambil air mineral-yang gelasan terutama-tolong sadari dulu kita memang sedang dahaga atau tidak, atau sekadar seret di tenggorokan, kalau memang sudah terlanjur dibuka, habiskan, jangan sampai setengah yang masih tersisa terbuang begitu saja, kalau memang kita tak mampu, yasudah tak usah ambil, cukup mudah kan?
-iya mudah diujarkan, tapi entah bagaimana mempraktikan
Mari mulai dari hal yang kecil, yang sering kita sepelakan, tapi jika 7.5 milyar orang melakukan hal yang sama, bukankah dampaknya dapat dikatakan bencana?
Yogyakarta,
Ditulis Rabu, tapi diposting Sabtu,
20 Februari 2019
Komentar
Posting Komentar