"Petang, kak?"
Percakapan ini kucuri saat selesai memperpanjang peminjaman buku sekaligus urusan tertentu, dalam sela angin di malam sabtu, dibubuhi sedikit gerimis yang enggan rintik bunyinya. Sedikit ciamik, agak syahdu.
Aku sedang kesusu, tergesa-gesa. Ada janji yang sebenarnya harus kutepati setengah jam yang lalu,
-tolong jangan menganut pahamku, mengurusi sesuatu dan mengulur waktu bukanlah hal yang patut ditiru, waktu bukan perkara yang gampang kau isi ulang seenak jidatmu, bukan pula sumber daya terbarukan yang bisa digantikan oleh minyak bumi maupun energi alam.
Ojek online pesananku telah datang menjemput. Setelah konfirmasi identitas,aku-yang masih kesusu-tak mau banyak basa-basi, aku hanya ingin segera memenuhi janji.
" Selamat petang, kak"
Dengan ramah, bapak ojol tadi menyapaku dan menawarkan helm-yang sudah merupakan kewajibannya. Merasakan keriangan dari nada bapak ini, sepertinya, semangat beliau tertular padaku lewat spektrum tertentu.
"Sedikit gerimis, ya pak tadi?", aku mengunci kait pada helm.
"Whaiya kak, tadi saya dari tamsis deras malah kak" memperbaiki posisi, dengan jas hujan yang sepertinya beberapa menit lalu tempias hujan menerpa,
"Tadi sini juga sempat deras pak, angin kencang pula, cuaca memang sedang tak biasanya"
Lampu merah pada perempatan pertama telah kuhafal lama kedipnya, delapanpuluh koma limapuluhtiga,sekarang detik ke tujupuluh sembilan. Pada sela kami berbincang, bapak ini menggunakan "kak" untuk sapaan, aku terkekeh-bapak itu sepertinya tahu apa maksudku.
"Hehe,siapa saja saya panggil 'kak' kok mbak, anak sekolahan, ibuk-ibuk, atau bapak-bapak juga,"
" Oalahh, lah saya kalau order biasanya dipanggilnya mas kalau tidak ya pak, pas drivernya sudah sampai, pernah salah orang sama mas-mas yang sedang nelfon ibunya di pinggir jalan,"
"Hehe, kalau saya semua tak panggil 'kak', soalnya bentuk saya menghargai customer, ya gimana ya kak, rata-rata kan ibuk" suka dipanggil lebih muda gitu ya kak hehe"
"Yhaa, bener juga sih pak. Lah kalau kakek-kakek gimana pak?"
"Wahyatetap 'kak' juga, saya berusaha memperlakukan customer sebaik mungkin"
Kerjap lampu merah lima kali, lantas kuning sekjap dan hijau kemudian. Aku masih terkekeh,
Buka masalah panggilan 'kak' meskipun pada kakek-kakek berumur dua kali lebih tua darinya, tapi bagaimana berusaha menjadi seseorang yang berusaha menghargai dan menghormati sesama bagaimanapun keadaanya. Se sederhana itu.
Tapi tidak semudah itu. Untuk memaknai bahwa menghargai orang lain itu berarti tiap-tiap dari kita haruslah legowo, menerima keadaan orang lain, menundukkan nafsu egoisme yang kita saja sulit mengakuinya.
Sederhana, tetapi tidak mudah. Tidak mudah, tapi sederhana.
Pak ojol yang gemar menyapa pelangganya dengan kak ini telah menuntaskan misi baginya, aku sampai tujuan juga.
Aku baru ingat kembali bahwa aku ada janji!!
Yogyakarta,
25 Januari 2019
Manteeeb :")
BalasHapus