Sambat Malam-Malam
Malam semakin matang, menggumpal mengendap di dasar kaca jendela. Dingin. Hujan selalu saja hadir tak memberi tanda padaku, pada langit jingga. Tempias yang menari-nari jatuh ke bumi, membuatku menarik diri, percayalah, trotoar di jalan jogja tak melulu seramah di jalan Malioboro dan kenangannya.
Pukul tujuh, aku menunggu bus komuter, Transjogja jalur sepuluh. Rintik hujan jatuh bersamaan, semakin banyak, seperti manusia-manusia yang mulai singgah. 3A-4A-3B, jalur yang kutunggu tak kunjung tiba, aku masih berdiri di dekat pembatas kaca, menempel kepadanya, karena tempat tak lagi memungkinkan untuk bergerak leluasa. Setelah sekitar duapuluh menit lebih limapuluh tiga detik lamanya, bus jalur sepuluh ini berderak mendekat, memuntahkan seluruh isi penumpangnya-seorang bapak tua berkacamata, beberapa anak muda yang habis jalan-jalan sepertinya, ibu-ibu dengan hijab warna cetarnya, dan bapak paruh baya yang berkemeja-aku naik, sendiri.
Bau desau angin yang menguar setelah sepersekian detik pintu tertutup otomatis dari dalam bus ini memulai perjalanan jalur sepuluh, dengan ramah bercampur lelah, mas-mas penjaga mesin tap dekat pintu menanya,
"Mau ke mana mbak? "
Aku menoleh, menjelaskan destinasiku,
"Waduh mbak, kalau gitu mending tadi dari halte ambil jalur 4b, lanjut 3b mba,"
Sip. Aku mengecek sekali lagi rute transjogja via maps yang sedari tadi kubuka, kurunut lagi jalurnya.
"Bukannya jalur 10 lewat sana ya mas ya?"
"Duh engga mba, cuman sampai SGM"
Sial! Setelah lima kali kucek barangkali ada yang terlewat, aku sadar, aku memang terlewat bodoh tak menanyakan ulang jalur yang kutempuh pada ibuk-ibuk bergincu merah penjaga halte yang nyaris setengah jam kutunggui disana.
"Yaudah mba, nanti turun saja di SGM, nanti pindah jalur 4a ke Giwangan, terus baru ambil 3b"
Haha. Aku tertawa miris, hanya anggukan yang bisa kutawarkan kepada masnya, selain tawa yang lebih kecut daripada bau badanku saat ini, setelah berjam-jam jalan dan dikenai oleh tempias hujan yang nakal.
07.30, masih di bus jalur 10 pemberhentian ke tiga, dengan ditemani Gombloh dengan "Kugadaikan Cintaku" aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dan rencanaNya menunjukanku pada jalan yang menyimpang-pada dasarnya memang kita terlalu merasa terlalu percaya akan diri sendiri untuk menentukan hal yang agaknya terihat pasti-dengan pegal meremas punggung, aku bersandar, mengikuti ritme la-la-la.
Halte SGM. Untuk tidak mengulangi kecerobohanku yang kesekian kali, aku memastikan kemana destinasiku pergi, dan dengan bus jalur berapa yang harus kutunggui. Ibuk ibuk dengan jilbab hitam dan dempul putih itu mengatakan, bus yang seharusnya kutumpangi baru saja pergi, aku harus menunggu sekitar 50 menitan lagi. Diluar, hujan tambah deras, kakiku tambah lemas.
Di sebelah halte kudapati toko roti kecil dengan plang lampu yang kecil pula, memaksaku untuk beranjak, pergi. Aku berterimakasih pada ibu berjilbab hitam itu, dan berlari kecil, tempias hujan nakal itu masih memainkanku. Kling, pintu masuk berbunyi. Etalase kaca berisi roti warna-warni mengingatkanku untuk mengisi perut yang kutelantarkan sedari pagi. Aku mengambil sebungkus, dan membayarnya dan kubawa tanpa kantung plastik lagi.
Hujan makin menjadi. Menyekapku dalam ruang dan waktu yang lumpuh akan lirik lagu band indie. Aku memesan ojek online. Sepuluh menit, tak kunjung kudapat driver yang akan menemaniku hujan-hujanan. Aku berlari, di sepanjang trotoar, meloncati genangan-genangan dalam air parit yang membauri hujan juga kebisingan. Tak mungkin juga aku pulang dengan meloncat-loncat macam orang kehilangan kerjaan sepanjang 2.4 km. Lantas aku terus menyusuri trotoar, berharap ada pedagang nasi goreng dengan wajan yang sedang dipanaskan, atau gerobak mie ayam yang bercat oren terang, tolonglah, aku berusaha menukar lemas di sekujur tubuh dengan seporsi makan malam ditemani hujan.
Sudah berpuluh langkah. Tak ada orang jualan, tak ada sinyal, tak ada driver ojol yang datang. Adanya atm dengan atap yang sedikit dapat menyelamatkan tasku dari hujan, badanku tidak. Hujan sepenuhnya deras hingga pukul delapan, aku dengan kaki gemetar entah karena belum makan atau kedinginan, menopang tangan dengan jempol yang terus terusan memperbaharui pesanan ojek online yang dari satu jam yang lalu kupesan. Tak ada kemajuan. Tempias makin deras. Malam makin kelu dengan tak ada satu orangpun yang dapat membantu. Dengan sebegitu banyak kontak di ponselku, aku tahu tak ada satupun darinya yang dapat menghampiriku saat ini juga, kuajak berhujan-hujanan ria, membelah kota dan berhenti di gerobak mie godhok jawa dekat lapangan perempatan jalan. Tak ada. Bahkan tak ada satupun yang tahu aku sekarang, masih didepan atm pinggir jalan, menimbun kekuatan untuk tetap sabar. Tak ada, ataukah aku yang tak berusaha melibatkan mereka ada? Persetan la! ku tahu besok mereka mereka ada banyak pekerjaan untuk dihadapi dengan tenaga.
09.00 hujan mulai reda, aku berusaha menyebrang, tujuanku satu. Pamella Satu. Aku ingin menjejalkan sesuatu sembari menunggu suatu boncengan datang menjemputku. Saat melintas di dekat parkiran, tampak bapak-bapak paruh baya dengan jaket ojol melewatiku, aku membuntutinya.
"Mohon maaf bapak driver ojol ya?"
"Iya mbak, bagaimana?" Agak ragu, beliau melanjutkan langkahnya. Aku tetap ngintil.
"Bapak bisa terima orderan saya tidak ya?" Aku ngintil, plus muka melas
"Duh saya dapatnya yg jauh-jauh mbak, nggak mesti"
"Boleh dicoba dulu pak?" Aku melas tapi memaksa. Masih ngintil hingga berada di parkiran motornya. Kami mencoba melakukan transaksi.
"Kalau ndak bisa manual aja gimana mbak" bapaknya dengan raut terpaksa,sebenarnya, menjelaskanku tentang rumitnya mendapat customer jauh dari jangkauannya.
Kami bersepakat untuk melakukan transaksi manual. Ku telah meyakinkan diri, Tuhan memang mempunyai cara yang lebih logis dan nyata daripada plot twist milik sinetron tiap malam di channel nomor lima. Kakiku masih bergetar. Hujan makin menjadi, kaca kacamataku bagai kaca aquarium ikan air tawar yang sedang bunting.
Tempias sudah puas. Aku telah kuyup sepenuhnya, aku telah lemas bahkan untuk berdiri. Di lima belas menit jalan dengan terpaan angin malam yang menguliti kuduk, aku diam. Mendiamkam diri sendiri, merenungkan apa yang tiap hari dan hari ini, keajaiban kemudahan dan ketidaksesuaian, akan selalu ada dan mau tak mau sebagai manusia, jiwa kita akan terus menginginkan pemenuhan nafsunya. Aku dengan kuyup diperjalanan, semoga dimanapun kamu berada selalu diberi kekuatan untuk peka dan tanggap akan tiap hal, tiap keadaan.
Aku tenggelam ke jalan dengan trotoarnya yang dapat kau loncat-lancati macam film india, aku tenggelam pada ilmu, pada keberadaan tak bertamu dan teman yang tak dapat dihubungi pada malam sabtu. Aku tenggelam, pada hujan, pada kesendirian, pada keniscayaan.
Tapi, hei sedikit pelajaran yang dapat kujelaskan, jangan menyimpan bom waktu bagi dirimu, karena bisa jadi satu dari sekian ribu kontak di nomor hapemu punya alat peredamnya, tapi karena kau tak mau bicara kalian berdua sama-sama mati, diledakkan ketidakmampuan diri sendiri. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu tolong beritahu aku, atau siapapun yang kiranya dapat membantu, karena aku tahu sendiri bahwa menghadapi hal berat itu perlu tenaga yg lebih kuat.
09.45
Yogyakata,
16 Februari 2019
Komentar
Posting Komentar