The Toxic of Positiveness

Hari itu separuh dayaku telah termakan malam, dan aku baru pulang.
Pukul tujuh lebih empat belas koma limapuluh dua, salah satu temanku mengajak mencari makan, yah meskipun hati ini mengiyakan, tapi apa daya kantong menjerit tertahan. Maaf teman, utangku telah berlimpahan.
" Heiii, should i go to mall alone ?" ( 7. 14 )
-dahiku mengernyit
"Why whyy??" ( 7.14 )
-jawabku,
" i feel bad, wanna ice cream" ( 7.15 )
Sebenarnya ada hal aneh dengan ajakan teman satuku ini, malam ini dia ajak aku beli es krim di mall tengah kota. Oke, sebenernya itu hal yang wajar bagi kita-kita semua, tapi tidak buat temenku ini. Ia pribadi yang kuat, dan bertanggung jawab atas yang dia perbuat, orangnya juga supel dan santayy, apa hubungannya dengan es krim? Aneh? Iya, waktu itu ia berpesan, seakan tak berani mengendarai motor sekitar sepuluh menit menuju pikuk ramai kota, dan satu lagi, dia suka makan sebangsa manisan saat hatinya sedang tak enak dirasakan-aku menangkap makna, dia ingin dihibur untuk bersama. Tapi aku terlambat.
" Maaf,belum bisa menemani :( " ( 7.20 )
" oke santai" ( 7.21 )
-jawabnya
photo sent
Aku mengirim meme berpelukan padanya,
Setelah ajakan itu, ternyata tak ada respon dari teman-temanku ( iya, dia menanyakan apakah ada yg ingin menyertainya di grup ), aku dengan jalur pribadi menanyakan kepadanya apakah dia sedang tak enak atau apa, kemudian ternyata dia telah dalam perjalanan dalam mencari es krim yang dia inginkan. Aku agak lega, mungkin dia hanya bosan dan ingin pergi mencari udara. Tapi sialnya, firasat burukku tak kunjung reda.
Tiga puluh dua koma lima detik, salah seorang temanku membalas begini :
" Gapapa kok, aku juga sering ke mall sendiri " ( 7.26 )
Temanku yg mengajak itu, menjawab-
"Oke" ( 7. 26 )
Pukul delapan lewat enam, pas. Dia tiba-tiba mengirimkan pesan di japri,
" Sht, i wanna cry " ( 8. 06 )
"Heyy, why?" ( 8.06 )
"Wht happend" ( 8.06 )
Aku memberondongnya dengan pertanyaan 5w+h, kebiasaan buruk karena terlalu mencemaskan seseorang, kadang kita justru membuat orang yg kita cemaskan merasa terjepit atas keadaan. Sepersekian detik kemudian, aku baru sadar aku salah besar.
"it's just too complicated" ( 8.08 )
"Alright, okeyy calm down" ( 8.08 )
"If you're not okay, just release your tear" ( 8.08)
"Cry, cry a lot. You have to let off that burden" ( 8.08 )
"F, i'm started crying" ( 8.10 )
"Semoga aku ngga malu-maluin nangis di mall" ( 8.11 )
"No no, its ok" ( 8.11)
"Well i won't ask u why then, or you don't have to tell me why" ( 8.11)
"Just okay, u need self care, it's not selfish" ( 8.11 )
"Ok, i will take my time" ( 8.12 )
-photo sent-
Aku mengirimkannya quotes untuk mengingatkannya bahwa self-care itu penting, menanamkan keyakinan pada diri sendiri bahwa it's ok if you're not good enough, either you were'nt there yet.
"Masih disana?" ( 8.20 )
"Sendiri?" ( 8.20)
"Iya" ( 8.20 )
"Gapapa" ( 8.21 )
" i got it, stay safee" ( 8.21 )
" you're stronger than u think!!" ( 8.21 )
"Sudah pulang?" ( 10.00 )
"Iya, dah sampai kok" ( 10. 01 )
"Makasih ya" ( 10.01 )
"Aku bisa berfikir realistis sekarang" ( 10.01 )
"Iyaa, selalu insha Allah" ( 10.01 )
"Sudah, raga dan jiwamu perlu istirahat" ( 10.02 )
"Jangan lupa self care itu perlu :) " ( 10.02 )
Kutipan pesan dengan suntingan diatas merupakan salah satu dari sekian mental crisis yang kudapati di antara teman-temanku. Kalau dirunut, memang dari pesan pertama kadang kita acap kali tak peduli, soalnya toh kita anggap biasa aja, hal lumrah.
Tapi, memangnya kita tahu keadaan asli dari teman kita sebenarnya? Siapa tau yang haha-hihi di grup keluarga sedang meringkuk kelaparan, mana ada yg tahu si A masang instastory lagi jalan-jalan sebenarnya sedang mencari obat untuk ibunya yang sedang kesakitan. Siapa tahu yang sedang menghiburmu yang sedang sakit hati ternyata baru saja jatuh kecebur selokan.
Disini respon kita sangatlah berarti. Karena mungkin, teman kita yg sedang mengalami mental crisis ini tak mengerti bagaimana cara dia menceritakan beban yang dia dapatkan, bagaimana cara dia meminta tolong untuk didengarkan, bagaimana tubuhnya dan jiwanya minta untuk diistirahatkan, sejenak. Disinilah kita, sebagai teman yang bisa menerima sinyal teman kita ini harus peduli. Bukannya malah direspon seperti
"Gpp kok, aku juga biasa digituin"
"Iya, sabar ya, kayak gitu mah dah biasa"
"Udah, gpp, bersyukur dong kamu baru kena nasib buruk segini, gimana kalau kamu jadi saudaramu yg lagi perang di...."
Hiyahiyahiyaa, bagaimana ceritanya kita yang awalnya mau membentuk pribadi teman kita yang lebih kuat, mudah bersyukur, pantang menyerah dan tangguh seperti pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah-sekolah dasar, malah semakin membuatnya tertekan.
This is called toxic positivity,
Atas beberapa sumber dan pengalaman, apakah toxic positivity ini buruk?
Engga juga, tapi ini toxic, bikin para manusia deny their feelings, kalau memang teman kita sedang kena musibah, sedang kena masalah, ada barangnya yg hilang, apakah sedih hal yang tak wajar?
Memang dalam membentul pribadi yang tangguh tidak diperkenankan lemah macam batang bayem, tapi hal yang salah juga jika kita mendoktrin diri untuk terus bisa menjadi baik, terus bisa menjadi sempurna dan menerima kenyataan, yang pada ujungnya kadang justru kita sendiri malah terkena mental crisis dimana kita sendiri jenuh dan tidak merasa baik untul diri sendiri padahal kita telah berusaha melakukan segalanya dan berusaha tangguh sendiri, kemudian masalah yang kita anggap tidak apa-apa mulai berserawutan dan bersarang dalam satu titik kehidupan. Jika kondisi kejiwaan kita memang kuat, maka cara pandang kita akan kehidupan akan ada saja jalan keluar yang Sang Pencipta tunjukan. Tapi ingat, self care itu hal yang penting!
Bagaimana kau akan menghadapi tantangan yang lebih besar, jika kau tak bisa berkawan dan menerima dirimu yang tak bisa selalu bagus, yang melalui sesuatu lebih lambat dari sekelilingmu. Semua orang ada caranya masing-masing, semua orang tak ada parameter universal dalam menentukan proses mereka.
Begitu juga teman-teman kita. Mungkin kita yang sudah lebih tangguh dibandingkan teman" kita ingin mendorong mereka untuk sama-sama berdiri di kaki sendiri, tapi ingat parameter tiap orang berbeda-beda. Jika mereka memang jatuh, maka refleksikan saat kamu ada dalam posisi itu, meskipun kau tahu kau akan lebih tangguh dari mereka, maka tolonglah mereka dengan memandang sebagai sama-sama manusia yang sedih jika sesuatu yang buruk menimpa.
"Ohh, begitu? Wahh mungkin aku juga bakal sedih kalau jadi kamu,"
"Wahh, sabar yaa, kamu kuat kok!"
"Iya, sini aku dengerin. Kamu susah ceritanya ya? Yaudah gapapa"
Kalau merespon seperti itu apakah sulit?
Karena masing-masing dari kita punya peran di dalam hidup orang lain, masing-masing dari kita memiliki kesempatan untuk membantu sepersekianpuluh pembunuhan diri di Indonesia terjadi, dan sepersekianratus depresi di usia dini.
Eh, coba cek dulu pesan masukmu, kira-kira apakah ada S.O.S terselip di tumpukan kontak dalam telefon genggamu?
Atau, kalau temanmu sedang ingin bercerita, jangan potong dulu ucapannya.
Tangkap tandanya,
Rekam makna dibalik sorot matanya,
Karena kita perlu mendengar keseluruhan cerita.
*p.s : the bold text is the messege that my friend sent
Yogyakarta,
Ditulis sebelum mandi tengah malam ini,
28 April 2019





Komentar

Postingan Populer