Sudah Capai?
Rasa-rasanya jika tiap hari aku harus melaju dari rumah, bisa-bisa remuk habis staminaku, yah, maklumlah, aku dan sekolahku memang dalam hubungan jarak jauh, LDR. Tapi dengan kondisi intensitas aktivitas yang menuntut fisik, mental dan spiritual, maka konklusi atas apa yang aku rasakan memang tak bisa dipaksakan, yah, kau tahu sendiri kan, aku orang yang gemar kesana-kemari, loncat sana-sini, menjelma beberapa peran dalam dua puluh empat jam, tokohku bisa saja menghilang sekerjap. Simsalabim.
Jikalau bisa, aku mau untuk menghidupi para tokoh" di dalam diriku saja, menyuntikan mereka nyawa-nyawa. Tapi bagaimanapun, formasi badanku masih belum genap tujuh belas, kapasitas wawasan dan pengalaman yang kunegosiasikan oleh waktu masih jauh dari sekadar cukup dan cakap.
Burung diatas ranting di salah satu dahan dari jutaan pohon aku prakirakan belum mau membagi cuitan kecil padaku. Masih subuh, pagi buta. Dingin air di kamar mandi bukan hanya di permukaan, gigi gemeretuk menahan. Cermin menolak memberikan gambaran diriku atas imajinasi-imajinasi dan khayalan-yang biasa dipermukaan fikiran gadis berusia enam belasan-dia menatapku nanar dengan lingkaran-lingkaran hitam di sekitaran mata, dengan kantong kendur menunjukan kelebihan batas umur.
Maaf tubuhku, aku memaksamu untuk lebih dari yang kau perlu.
Aku pamitan dan mengangguk dalam-dalam. Belum sempat bus PATAS Jogja-Semarang datang, ibu lebih dulu memepetku dengan pertanyaan "Kapan pulang?"-aku tersenyum gelisah tertahan. Bu, maaf tiap malam aku tak bisa menemanimu dengan kisah yang tiap hari kau temukan di balik keriput senyumu, menetes di sela-sela rambut hitam yang menyembul anar uban.
Deru knalpot masih samar-samar, seperti kelopak mataku yang terus-terus mengerjap menolak kantuk menyerang. Bus lumayang lengang, tak lama ngetem juga, ah aku memang suka perjalanan di batas subuh dan petang! Tak banyak manusia yang berlalu-lalang.
Aku masih suka gemeretuk besi pegangan mendenting-menghantam derak bingkai kaca jendela. Butut. Tak masalah dengan itu, aku sekarang candu dengan perjalanan, berpindah posisi juga memepermainkan otak dan melepas intuisi liar, mencari akurasi dan esensi, menemukan rima dan bait di pematang malam di akhir pekan, juga sapaan yang kau selipkan diantara bayang-bayang. Aku candu,tapi tak secandu tubuhku. Ah iya, vertigoku kini kerap muncul-tenggelam, membersamai perjalanan, mungkin dia sedang rindu karena membiarkanku duduk terus-terusan, biasa suka jahil memang!
Sebagai seorang manusia, ya jujur saja aku capai, lelah dalam posisi tertentu waktu-waktu yang membuatku ingin menghilang pun juga masalahku. Tapi dikarenakan realisme duniawiyah, aku tak mungkin bisa menjadi invisible begitu saja, pun masalahku tentunya. Tapi karena kemanusiawian maka menerima kelelahan adalah hal yang tidak bisa dilarang. Tapi memangnya aku sudah capai? Atas apa aku bisa mengatakan lelah? Apakah batasku hanya segini, atau masih bisa tambah?
Aku melongok kiri-kanan, melihat sebaya ada puan dengan buku catatan, setengah tertidur dengan kepala yang terangguk-angguk seiring guncangan. Mungkin puan akan seleksi masuk perguruan tinggi yang bergelombang-gelombangan. Terlihat capai, lelah dan sayu macam indomie tanpa bumbu, atau kamu tanpa aku-hiyahiyahiya-eh, jadi halu!
Mungkin si puan memang sedang capai,fisiknya,tapi tidak untuk semangatnya, semangat buat menyalakan kembali api-api kehidupan, mematik sekitar mengajariku perihal keseriusan. Hening. Meski diluar masih dengan bus butut yang terkentut-kentut, tapi relungku diam. Lantas bertanya pada diri sendiri, apakah benar aku sudah sampai batas stamina dan usaha? Apakah aku benar-benar merasa sudah mengeluarkan energi yang sepantasnya? Apakah rasa capaiku hanya sebuah perasaan artifisial yang kujadikan alasan atas kemalasan dalam penempaan kedewasaan?
Apakah benar, sudah capai?
Dalam perjalanan menuju sekolahan masih dengan langit yang tak kunjung hilang kegelapannya-subuh.
27 Mei 2019
Ma'annajah semoga lelah yang lillah. Tetap menulis dan panjang umur perjuangan , Tabik!!⚘
BalasHapus