Ketika Pulang
Dalam fase perantauan, merindu untuk kembali ke kampung halaman merupakan hal yang wajar. Dan untuk kesempatan-kesempatan yang terlewatkan dalam membauri ketenangan desa, harus ditunaikan, entah dalam sekali dari beberapa pekan. Kemudian, kurasa, memang perlu untuk menepi daru kebisingan-kebisingan remah kehidupan kota, merangsang diri sendiri dalam merefleksikan ketenangan dalam diri, jauh dari polusi opini yang kudapati semakin meradang akhir-akhir ini
Kampung halamanku masih bisa dijangkau jalur evakuasi, pun strata sosial bisa dikata mulai mentas dari kebergantungan total pada alam-alias mata pencaharian yang mulai merambah pada produksi dan kegiatan komersial. Dan seperti pada umumnya, sinyal beberapa provider telepon seluler berakseskan internet menjamur di sana-sini. Maka, gawai bisa dikata benda wajib entah saat setelah pengajian, bercocok tanam atau menyiapkan makan malam.
Namun, meningkatnya aksesibilitas atas komunikasi tak diimbangi daya literasi dan penyaringan informasi. Maka, tak ayal bila selalu bisa kita jumpau isu-isu yang sengaja digoreng atas kepentingan pihak tertentu, menjadi kudapan sehari-hari, sembari meniti pematang sawah setelag dini hari. Dan sayang lagi, dengan buas dalan beberapa opini, taktik mulai menguasai emosu dan sebuah sistematika pemikiran rasional dalam pemikiran masyarakat.
Hal ini dikuatkan dengan tokoh-tokoh yang dianggap menjadi tetua maupun para terpercaya yang masih buta dalam mengomparasikan permintaan para pihak berkepentingan dalam pengambilan keputusan. Sehingga masyarakat cenderung yakin seyakin-yakinnya atau tidak yakin sama sekali dengan informasi atau fenomena yang terjadi apabila terindikasi oleh sesuatu/sebagian pihak terkait.
Dalam masyarakat desa, yang berstatus sosial menengah cenderung kebawah, dengan ekosistem minim referensi, ysng muncul adalah sebuah identitas konserfatif yang cenderung menolak kepercayaan bahwa dunia ini akan selalu berputar dan berevolusi, apalagi atas paham tertentu yang dipaksakan masuk. Beberapa orang dengan lebih baik dalam edukasi, sadar bahwa pemahaman yang batu tentu tidak dapat dipertahankan secara saklek dalam bentuk yang sudah dipatri. Dan itulah tantangannya, dalam masyarakat, perlu dukungan dan gerakan masif tetapi dengan pelan-pelan. Oleh siapa saja? Ya para pemuda, kemudian menyebar ke orang tua, dan remaja dan yg lebih muda.
Dicatat atas dasar tugas Bahasa Indonesia
Pada 20 Januari 2020
Komentar
Posting Komentar