Kalau Aku Laki-Laki


 

Aku mau berargumen dengan ayahku sendiri, didengarkan, sembari kita duduk bersama dihadapan meja makan, saat malam. Kalau aku laki-laki.

Kemudian, berbicara soal keinginanku yang suka berpetualang. Menengok pelbagai warna di dunia, kemudian mewujudkannya jadi sketsa abu-abu tua. Lantas, menyodorkan formulir pendaftaran program pertukaran pelajar, tanpa beban.

Aku juga mau jalan-jalan sendiri, menapak gunung dan meluncur ke bukit-bukit tempat jatuhnya bintang, sendirian. Kalau aku laki-laki.

Aku mau tidak dibicarakan soal penampila mulu. Aku mau tidak menjadi objektifikasi pandangan sosial tentang standar tabu dalam peradaban. Aku mau merasakan diperlakukan secara logis dan sadar, bukan melulu makhluk yang dilabeli mengutamakan perasaan kemudian dianggap baperan.

Atau, aku mau pulang malam-malam sekali, sembari menikmati deru angin menampar pipi, dengan senandung lagu saat dini hari, tanpa khawatir atas cibiran tetangga dan omongan-omongan tak mengenakkan yang menusuk telinga.

Lalu, aku mau bermain dengan siapa saja. Menongkrong bersama orang-orang penting di pos ronda, membicarakan hal-hal kemasyarakatan tanpa dipandang sebelah mata. Bertemu dengan para penjual angkringan dan saling bertegur sapa.

Kalau aku laki-laki, lagi. Aku mau datang ke konser jazz sendiri, mencari warung kopi yang masih buka hingga pukul dua pagi, berdiskusi soal esok hari, juga bebas kemanapun aku pergi. Aku juga mau jadi yang paling lantang maju saat ada demonstrasi, merasakan pendapatnya valid dan saling debat panas diatas kursi.Aku mau jadi jagoan, walau itu bukan soal kekerasan, aku mau menjadi aman dan tidak perlu dianggap butuh perlindungan.

Aku mau merasakan hak-hak yang sewajarnya aku rasakan, sebagai kebutuhan dasar kemanusiaan. Aku mau melakukan hal-hal biasanya. Kalau saja, aku laki-laki.

Komentar

Postingan Populer