delapan-satu

 




Koma dalam alinea

adalah ia pelarian

dari malam-malam petang


-maksudku, aku tahu,

malam memang adalah kegelapan. Akan tetapi, buka berarti langit membiarkannya petang, bukan?

Akan selalu ada gantung-gantung harapan dalam gelembung doa, sebelum mata terpejam. Melayang, terus menguar ke titk-titik bintang, atau salah alamat hingga bermuara ke hutan, atau, mungkin ujung bulan-barangkali, disana ada pak pos dengan merpatinya yang lupa turun, pulang. Ya, kan?


-Untuk malam-malam petang dimana kau kubiarkan, hanyut dalam fikiran, 

pun, membuatmu meninggalkan tata-cara mewakilkan perasaan.


Aku meminta maaf

Atas detik-detik dimana kau duduk,

sendiri dan menghilang dalam diam. Kadang lupa, menumpahkan rasa dan asa di waktu kesepakatanmu dengan Tuhan.

Sehingga kau lebih sering hilang arah setelah dini hari menyapa sepi, lagi-lagi.


Tapi, setidaknya, keberpihakanku pada tidak mau tahu membuatku masih mau memahamimu.

-tidak terlambat, kan?


Dalam hitungan-hitungan yang terus bergulir, akan kupastikan kita terus bisa berbagi akhir kata yang ditulis pada halaman pertama. Juga sajak-sajak dan dialog yang dihapuskan Pak Sutradara, untuk kita.

Siang-Malam-Pagi


Kalau kita tidak ada masa untuk duduk bersama, akan kutulis surat lagi

-selembar lagi

Demi pengukuhan atas perjalanan-perjalanan yang kita rencanakan dan daftar hal-hal tidak terlalu penting-katanya-yang kau dapatkan, di hari-hari biasa. Seperti bertemu awan kapas yang tampak gembil-ceria!

atau, catatan kecil di ujung halaman keduapuluh dua, dari peminjam buku sebelumnya.


Magelang, 

25 Agustus 2020

-aku (selalu)


belum bisa tidur!


Komentar

Postingan Populer