Hari kedua : prentilan

Prentilan-prentilan kecil adalah hal yang selalu membuatku senang. Walau, kadang tidak terikat wujud kebentukan. Aroma, catatan kaki, sambal bawang, matahari. 


Aku agaknya seperti tumbuhan, syaraf kemalasanku baru akan bergerak jika bertemu sinar matahari pagi. Terus kemudian pagi-pagi bikin teh atau limun, atau teh limun-teh dalam arti sebenarnya.
Pagi hari benar-benar jadi mantra-mantra yang bisa membangkitkan semangat baru, juga malam-malam dengan langit yang ditumpahi seember bintang dan sepotong bulan.

Dibandingkan senja yang punya warna, aku lebih menyuka pagi dengan gulungan awan tebal seperti syal yang jatuh dari singgasana Sang Pencipta, mengembus harapan-harapan setiap harinya. Tapi akupun tidak membenci senja menuju petang, karena itu waktu yang paling tepat untuk bersepeda, menuruni jalan setapak desa menembus kisi-kisi rawa juga semak tak bernama. Juga petang menuju larut, aku selalu menunggu waktu dimana langit bersih dan tersembunyi dibaliknya butiran bintang berserakan, menyembul dari ujung-ujung pandang. Kepadanya kutanyakan cerita-cerita yang tak sempat terbukukan, juga takdir yang tak tergariskan.

Apalagi ya,

Oh, aku senang ketika ditanyai berbagai hal, meskipun hal kecil. Seperti, bagaimana cara memindahkan tanaman dari pot, bagaimana cara kerja satelit, juga apa rasa es krim kesukaan yang akan kau makan di akhir pekan.
Percakapan-percakapan kecil yang membuatku merasa penting.

Day two : things that makes you happy
28 September 2020

Komentar

Postingan Populer