Hari Pertama : Personalisasi
Secara singkat, kalian bisa temui si cerewet yang kadang butuh satu malam penuh dalam sepekan buat menunggu bulan di balkon kamar, tanpa distraksi-terutama dawai yang selalu berdengking oleh notifikasi. Aku.
Persona diriku selalu berputar antara kata dan warna. Terus bersiklus.
Personalisasi kata jadi sebuah implikasi yang senang kuajak berlari-lari bersamaan diksi. Karena, kata bisa menembak otak manusia, seribu kali lebih efisien dari Saiga-12.
Hahaha, aku suka. Berbahaya.
Kadang juga nyawa-nyawa bisa dititipkan bersama kata. Nadi putus, juga jiwa berbunga-bunga berkat jalur-jalur transmisi pada pilah-pilah kata.
Tapi, lebih seringnya komplikasi. Hahaha.
Terlalu banyak koma, juga tanda tanya pada tiap-tiap kata. Kemudian, titik.
Seberangkaian dengan titik pada akhir kata, warna itu persona.
Dan dengan labilnya, aku selalu suka semua warna. Hijau lumut, merah hati, hingga kuning stabilo.
Spektrum warna selalu bisa diandalkan untuk menarik atensi, warna dalam jiwa, warna-warna yang sembunyi di alam, jagat raya juga pada sisa-sisa percakapan tengah hari, pukul dua.
Palet dalam sisi imajinasiku sudah kulebarkan, membentang menuju pasak-pasak tanpa ujung, menembus akal-akal sehat si empunya.
Aku suka warna-warna yang gila. Yang suka mengaminkan para wisata para gelombang cahaya.
Aku terus menghimpun para warna yang kujejalkan pada kotak-kotak memenuhi otak. Kalau kau ada waktu, mungkin bisa kuajak unboxing yang butuh waktu dua puluh tujuh koma tiga ratus sembilan puluh tujuh tahun.
Senyata-nyatanya menembus mata. Aku juga mau, jadi subyek yang menjerat fikiran-fikiranmu melalui selaput kornea lurus terus kemudian belok ke jalur-jalur mikro listrik tak kasat mata ke gerbang imaji-mu.
Day 1
11 September 2020
Komentar
Posting Komentar