Selamat Malam, Apa Kabar?
Kau tahu, aku benar-benar sedang deadlock. Dengan diriku sendiri, dengan impian juga lingkungan. Aku kehilangan minat pada hal-hal kecil yang kucintai sebelumnya. Aku seperti sedang terdampar pada tubuh sebuah perempuan, yang hinggap dalam relung-relung imaji penuh pengharapan, melayang-layang di atas kenyataan-kemudian ia terkapar.
Tapi tentu saja aku tidak gila. Belum.
Apa yang kurasakan sekarang tak bervalidasi , bahkan mungkin kehambaran adalah satu-satunya rasa yang bisa kukenali saat ini. Dalam tawa, juga doa tanpa suara pukul dua. Apakah ini yang biasa disebut keputus-asaan?
Ah, rasanya juga bukan. Kalau memang keputus-asaan rasanya seperti semangkuk indomie kuah lembek yang telah dingin karena didiamkan dua jam, kurasa itu lebih baik rasanya. Aku berusaha mencari definisi lebih baik lagi, perasaan ketika telinga dan matamu telah terbiasa untuk melihat fakta, sedang kau tidak bisa berlaku apa-apa, seperti napas yang dipenggal satu-dua, di tengah malam menuju pagi buta. sial, aku terlalu suka dengan analogi. Hidupku sudah menjelma menjadi analogi tak kasat mata, sepertinya.
Aku memang, masih hidup, tapi entah dengan jiwaku. Terakhir kali kutanya padanya sebulan yang lalu, ia terhempas dan teronggok pada sudut ruang abu-abu. Tidak, aku tidak berbicara soal kematian raga, apa adanya. dan lagi, aku kapok ketika berbocara soal kematian-kau harus tahu, aku tidak pernah mau meromantisasi sebuah kegelapan.
Ah, iya aku lupa. Sepertinya cerminku sudah tak pernah kutengok sejak lama.
Haiiii nitaaaa aku Syifa (uuk).aaaaa tulisanya bagusss,jadi inget dulu suka baca anya junor di line wkwkwk.semangat nulisss yapp!!!
BalasHapus-dari pembacamu nomer 1