memo kecil bagi perjalanan yang tidak dibekukan
Hai, kotak pos ini sepertinya jarang kusentuh sejak Januari, tidak ada alasan khusus, karena dengan tulisan bulan Januari kemarin, kau tau, kondisi hambar menghilangkan minatku dengan hal-hal kecil, misal menulis catatan-catatan untuk perasaan yang mudah sekali hilang tak bertujuan.
Bukan berarti aku berhenti menulis, kadang keresahan dan kata-kata yang menumpuk di kepala aku keluarkan, dengan beberapa ikat sajak, beberapa cercau dalam medium yang berbeda. Sajak menjelma metamorfosa yang aku kendarai beberapa bulan ini, aku suka, dan aku bermain-main dengannya. Tapi aku jadi ingin bercerita padamu banyak hal secara gamblang, menyisipkan sedikit analogi dan bumbu-bumbu perenungan di sana-sini. Karena aku tidak tahu, kapan aku pergi.
Mungkin sedari kemarin aku takut, takut dengan harapan, takut dengan ketidakpastian, takut menelan kenyataan. Dan ketakutan-ketakutan lain yang kusembunyikan di bawah dipan. Apabila kata sudab tidak mau menampungnya, menangis jadi lenih sering bersama, kadnag datang ketika melihat kebahagiaan yang tak bisa dimilikinya, kadnag datang tanpa gagasan, menangis mengisi kekosongan. Aku lupa pada identitas yang tidak pernah cengeng untuk cakupan waktu yang lama, aku lupa untuk mengenali perasaan-perasaan yang kusimpan. Sementara ini, aku sedang berkenalan kepadanya lagi, membuka diri.
Mungkin juga aku rindu melarikan diri sendiri dengan sepeda di malam-malam yang panjang, berkelok di antara lampu kota yang menelanku, menampar mata kepala dengan angin dan aroma dari jalan-jalan yang semakin kuhapal namanya.
Mau tidak mau, aku butuh bentuk lain untuk menuntaskan hasrat perjalanan, merevitalisasi hakekat perenungan yang harusnya terlepas dari keterikatan ragawi, aku mau, pergi, kemana kata-kata menelusuri. Aku mau hilang, barang sebentar, menuju batas imaji. Menyesatkan diri, menjelma jadi batu yang menatap bintang buat semalaman. Menanya pada diri sendiri, apa yang kau cari?
Magelang,
23 Agustus 2021
Komentar
Posting Komentar