Apakah Perubahan Takdir Adalah Keniscayaan Dalam Perjalanan Menuju Masa Lalu?

 Bulan Januari sebagian penuh diisi oleh langit mendung dan juga aku yang terbaring di kasur karena sakit lebih dari sepekan tepat setelah UAS yang baru selesai pada pertengahan bulan. Dalam mimpi-mimpi buruk yang sering datang dan juga malam-malam tanpa tidur yang menenangkan fikiran, aku didatangi oleh beberapa refleksi atas beberapa penyesalan. Sesungguhnya penyesalan adalah sebuah kesia-siaan, tapi sialnya aku masih sering menemuinya pada sepertiga dini hari atau saat saat kepala sedang dalam waktu luang, seperti pada saat bedrest kemarin.


Penyesalan membawaku pada pengalaman membaca buku yang sebelumnya merupakan naskah teater yang ditulis oleh Toshikazu Kawazuki, judulnya “Before The Coffee Gets Cold” dalam terjemahannya oleh penerbit GPU “Funiculi Funicula”. Buku ini menawarkan empat potong perjalanan waktu dalam sebuah kafe kecil di himpitan gang yang bernama Funiculi Funicula, perjalanan melintas waktu ini hanya bisa dilakukan ketika persyaratan-persyaratan yang ada dipenuhi. Beberapa persyaratannya lumayan menyulitkan sehingga banyak yang merasa itu merupakan hal yang mustahil, ditambah bahwa apapun yang dilakukan dalam perjalanan waktu itu tidak akan merubah takdir yang terjadi saat ini menjadikan orang-orang percaya bahwa perjalanan waktu yang ditawarkan kafe itu sebatas mitos saja.


Nyatanya, dalam keempat perjalanan waktu itu masing-masing membawa dilema moral dan ambisi dalam memperbaiki keadaan. Sayangnya, takdir yang ada memang tidak pernah bisa diubah dalam perjalanan waktu itu. Keunikan ini membuatku menyadari konsep bahwa takdir yang sudah dilalui, sepahit apapun, tidak akan pernah dapat diubah bagaimanapun caranya, meskipun kau sudah dibantu oleh secangkir kopi yang dapat memutar waktu. Sehingga pada dasarnya, perjalanan waktu ini bukan bertujuan untuk mengubah takdir yang sudah dijalani, akan tetapi menata ulang presepsi dan susunan perasaan dalam menerima keadaan. 


Dengan perasaan sejujur-jujurnya aku menangis dalam dua potong cerita, yang pertama adalah cerita tentang pasangan suami istri yang salah satunya mengidap demensia, di mana sang suami secara bertahap melupakan memori, kenangan dan kesadaran atas hal-hal yang ada di hidupnya, salah satunya adalah istrinya. Sang istri, Kohtake yang menjalani perjalanan mengulang waktu kemudian menemukan sebuah jawaban yang menguatkannya ketika harus dilupakan oleh suaminya. Merefleksikan bagaimana dilupakan oleh orang yang dicintai saja sudah menjadi ketakutan yang aku rasakan, bagaimana pula dengan realita yang harus dihadapi ketika sehari-hari kita harus mengingatkan bahwa kita adalah orang yang berarti dalam hidup orang yang kita cintai. 


Cerita kedua adalah Kei, seorang perempuan yang memiliki komplikasi penyakit yang kemudian tidak dapat bertemu dengan anak yang dikandungnya. Perjalanan waktu yang dilaluinya adalah perjalanan waktu ke masa depan, di mana dia berusaha untuk bertemu dengan anaknya. Konflik batin antara ibu dan anak yang belum pernah bertemu, bagaimana kekecewaan terhadap diri sendiri dan keharuan atas keterasingan antara orang yang dicintai bertemu di sini. Bagaimana keraguan untuk saling mengeluarkan pengakuan jujur atas satu sama lain benar” menumbuk perasaan. Cerita mengalir dengan sederhana dan tidak muluk-muluk, memberi porsi yang pas untuk menanyakan hakikat kekecewaan terhadap keadaan. 


Aku dan penyesalan-penyesalanku merasa perlu berdialog, mengurai kehendak masing-masing dalam kuasa atas cara menjalani hidup yang kami hadapi sehari-hari. Posibilitas untuk mengarungi masa lalu memang tidak akan mengubah takdir, kalaupun caranya benar-benar ada. Tapi takdir yang telah kita hadapi memang tidak ada gunanya untuk disesali, apa jadinya hari ini kalau kekuatan kita hanya digunakan buat menyesali kemarin-kemarin hari?


Pada hakikatnya kita tetap harus meluangkan waktu barang sebentar buat berdialog dengan penyesalan, biar kedepannya hantu bernama penyesalan ini tidak membesar, kalau mereka diberi kesempatan membesar membesar terus melahap habis waktu dan perasaanmu, adalah sebuah keniscayaan apabila besok bisa jadi habis hidupmu dimakan penyesalan.


Muntilan, 

Januari 2022


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer