Mengimani Berjalan Kaki

 Ada satu obsesi yang baru saya patenkan dalam eksistensinya dalam diri; berjalan kaki. Saya rasa semua orang sepakat bahwa jalan kaki adalah hal termudah nan begitu indah yang dimiliki oleh makhluk Tuhan yang memiliki kaki, entah jumlahnya dua-empat-delapan-sepuluh atau kelipatannya. Sungguh, men-fungsikan kaki sebagaimana mestinya, yakni berjalan, adalah suatu karunia besar yang jarang kita sadari berhari-hari hingga tahun melahap kita pada ideologi-ideologi tidak praktikal yang membawa keterasingan kepada jati diri kita sebagai mamalia berkaki dua. 

Kaki kita membawa pada tempat-tempat juga waktu-waktu yang entah kita niatkan atau tidak, membawa keberkahan bagi diri kita. Seperti, kepada rumah ibadah, kepada sekolah-sekolah, kepada pelukan orang-orang tersayang, juga kepada jalan-jalan yang disinyalir sebagai simbolisasi pemberantasan atas ketidakadilan. Kaki adalah sebuah otonomi yang perlu kita syukuri tiap hari. 

Proses berjalan kaki cukup membutuhkan hal-hal yang sudah Tuhan karuniakan saja, yakni sepasang kaki, mata yang cukup bisa membaca tanda-tanda alam dan simbol lalu lintas (juga keadaan sekitar), serta seikat akal sehat yang mampu membawa navigasi ke mana kamu pergi. Akal sehat patutnya selalu dirawat, agar tidak ada terobosan-terobosan secara literal, menerobos hak-hak pengguna jalan lainnya, ataupun mengusik kedamaian yang ada pada jalan-jalan yang tak kenal kita. Meskipun pejalan kaki jadi puncak piramida dalam strata hak pengguna jalan, maka sejatinya kita tak lantas jadi dewa jalan yang punya kuasa mutlak atas aktivitas jalan kaki kita ini. Sungguh, apabila menjadi dewa semudah itu, akupun rela meninggalkan payahnya semedi dan juga melepaskan keterikatan pada dunia atas menjadi pejalan kaki. Lantas, berjalan dengan akal sehat, tidak secara literal, adalah mode yang wajib diaktifkan selama kita memegang peran menjadi pejalan kaki. Yah, meskipun kadang yang tidak membawa akal sehat adalah pengemudi sembarangan yang merebut trotoar. Yang jelas, yang waraslah yang akan selalu mengoperasikan akal sehatnya. Kita sama-sama pejalan kaki yang waras, bukan?

Cukup mengenai perangkat pejalan kaki sehat (akal). Mari kita tarik kepada garis-garis batas sadar yang lebih dalam. Berjalan kaki yang diimani. 

Setelah lebih dari juta-juta langkah di tahun 2022 ini, satu hal yang kusadari adalah, jalan kaki menjadi lebih dari ritual dan proses yang secara materill didapatkan untuk berpindah dimensi tempat saja. Berjalan kaki merupakan perpanjangan upaya untuk sebuah mekanisme memperlambat waktu. Waktu yang kita jual pada kesibukan-kesibukan tiap pukul tujuh, juga pada empirisme sebuah kebutuhan atas eksistensi manusia itu sendiri. Padahal jawaban atas eksistensi adalah dengan bernegosiasi dengan waktu untuk jeda yang lebih lama. 

Berjalan kaki berarti melihat bagaimana dan kemana arah angin yang meniup pucuk-pucuk pohon di kisi-kisi jalanan yang jarang. Melihat bagaimana cerita-cerita lahir dari persimpangan-persimpangan. Lebih dari sekadar romantisasi. Mengimani, berarti untuk terus percaya selalu dalam sanubari. Untuk tetap meneruskan apa-apa yang telah diyakini, dan terus membicarakan atas hidup-hidup pejalan kaki. Bahwa hidup trotoar dan apa-apa yang melintas di atasnya menjadi sebuah kepentingan bersama, menjadi sebuah hak yang perlu disiasati ketika kekuasaan yang ada merenggut kesemuanya. 

Sayangnya, jalan-jalan kaki ini jadi suatu hal yang tercerabut dari manusia. Entah bagaimana caranya, tapi yang paling picik adalah kepada penguasa-penguasa yang merancang tata kota dengan mengeliminasi pejalan kaki di dalamnya. Biadab. Adapun lagi, saat ketergantungan dengan kemalasan menjadi-jadi. Yah, ini bukanlah dua hal yang tak bersinggungan. Secara matematika, persamaan ini dapat ditulis dengan ketika A menjadi asal muasal B, yang kemudian B ini menjadi sebuah alasan terjadinya B. Paradoks yang begitu laku dijual untuk menjadi alasan dinas-dinas perhubungan atas angka-angka yang menunjukkan keramahan tanah kita untuk manusia yang berjalan di atasnya cukup rendah adanya.

Oh, Gusti. Beribadah untukmu juga bagi saya mengimani berjalan kaki. Memberikan hak-hak untuk pada kaki-kaki untuk berjalan kemana dia menjemput kebaikan, kemana ia bertemu orang-rang menyenangkan, agar esok nanti ketika Kau tanyai, mereka punya cerita yang akan disampaiakan dengan kebanggan. 



Yogyakarta, November 2023

Sepanjang trotoar Pakualaman. 


Komentar

Postingan Populer