sekat sekat kepala saya yang melambung.




Pada pertikaian malam menuju batas waktu saya pulang ke asrama, album terbaru sleep shelter menemani saya laksana musafir yang telah letih dalam perjumpaan-perjumpaan berbotol-botol whiskey atau berkelir-kelir sajak yang ditulisnya pada seluruh bis kota yang ditumpanginya. Saya dipeluknya dan kita melambung pada batas-batas antara makna dan juga rona nada melebur, melintas lekuk suaramu yang tak pernah kudengar itu. Meminjam sepuluh butir ibuprofen untuk menenangkan gemuruh di dadaku. Tapi sayang, gemuruh itu telah menggerus habis kesabaranku, lantas tertinggallah aku pada halte tanpa nama tanpa lampu yang memisahkan anatara ketiadaan dan juga nama. 


Dan kita akhirnya hancur, tak ada yang bisa dipisahkan karena semua telah lamat dalam mataku, dalam mulutku, dalam perhitungan kata-kata yang tak pernah kita selesaikan rumusnya. 


Lalu aku ditinggalkannya, seperti kilat yang menyambar kornea mataku dalam sekejap yang tak dapat aku terjemahkan ke dalam angka, kecepatannya. Terengah aku mengejar buntutnya, bahkan dengan sepatu roda yang kristal warnanya, yang berderek-derek bunyinya meluncur di atas serpih- serpih. Aku tertinggal, terdampar dalam ruang vakum berearna biru berona ungu. Kurasa kita sepakat ini ruangan yang indah, sebegitu indah hingga mencekam napasku yang tinggal sepenggal-sepenggal ini. 


Lalu hijau menyembur dari bilik atas milik ruangaan vakum tak bersudut ini. Mataku mengincar garis-garis yang mengulir membesar dan hidup merangkak ke dalam keungu-unguan milik biru ruangan ini. Sepatu rodaku hilang. Aku menyibak gari dan gurat. Menari di atas hijau adalah putih, menjalin sebuah kehangatan yang jauh definisinya dari persona yang dibawakannya, tapi aku suka. Aku merasa hangat dan terpeluk, jatuh terlelap dalam pangkuannya yang masih-tanpa sudut. vakum dan penggal napasku tinggal satu per sebelas. 


Saya suka dipeluk. saya merasa nyaman, saya aman dan saya tidak ditinggalkan. 


Aku tak mau bangun meskipun ini sudah halte kedua menuju tujuanku. Seperti kena bius, bius milik  sang penguasa laut, yang pada kepalanya tersembul tiara yang diperoleh dari palung paling dalam nomor dua. Sedikit bercak sisik. 


Aku masih tidak mau bangun. dan ini halte terakhir sebelum mendekati destinasi tujuanku. 


Halte tujuan. Aku tak bangun.


Entah, akupun tak mengerti betul siapa yang telah mengantar saya tamasya melintas halte-halte tanpa nama. Yang kutahu, nafasnya terasa dingin seperti ketika kau membuka kulkas milik supermarket yang buka dan tutup pukul sembilan tepat. Seperti ketika pendingin ruangan ruang rapat  milik gedung tua itu ditinggal semalaman. 


Kepada langit-langit dengan kolong cahaya kota kami berbakti, kepada seluruh kemacetan dan tempais hujan, kami bersaksi. Kami, seluruh mimpi kami. 


Dan aku tak akan mau bangun,

Komentar

Postingan Populer