Motherhood, the reason for life.

(Catatan Hari Ibu Bagian Pertama) 

Jujur, cinta dan perayaan adalah bukan hal absolut bagi kepercayaanku terhadap dunia. Setidaknya, cinta akan senantiasa hadir meski tanpa ada perayaan-perayaan gemilang untuk berlomba-lomba berteriak kepada dunia eksistensinya. 


Namun, hari ibu berhasil membuatku melebur menjadi seperti mentega kubus yang dipanaskan untuk pembuatan kue-kue manis di malam minggu. Aku meleleh. Aku lebur kepada hubungan anak-ibu yang disuarakan, melalui rekam gambar, tulisan, kata, lagu, irama atau juga telfon singkat yang tanggung rasanya untuk ditutup di ujung malam sebelum kamu pulang. Bahwasanya tidak ada yang lebih besar dari hadirnya cinta di antara ibu dan anaknya, melebihi ketakutanmu terhadap apa-apa yang tak kasat mata. Aku tak dapat menahan senyum setiap mendapati orang-orang menunjukkan bagaimana ibu-bunda-mama-mami-make-simboke begitu indah, begitu rupawan sehingga seribu bunga tak lagi tertandingi dalam menebar pesona kepada warna. 


Dan aku jauh. Jauh dari jangkauan dekapan ibu yang memberiku pesan “kapan pulang?” di selepas maghrib saat sedang zikir petang dirapal di batas-batas ingatan. Ibu, maaf aku belum bisa menghadiri perayaan ini dengan kantung penuh gagap gempita buatmu saat itu juga. 

 

Yang jadi paradoks adalah aku menyemai kasih yang ada bersama ibu-ibu lain di Kota Jogja. Terdengar seperti sebuah betrayal, tapi, sungguh, kasih ibu tidak sudi untuk saling menusuk satu sama lain, yang ada saling memeluk atas apa-apa yang disia-siakan dunia. Teduh nan manja. 


Ibu harus tahu, aku bertemu banyak bentuk cinta yang menjadi alasan bagi kasih yang tak ada habisnya, terutama milik para ibunda senyata-nyatanya. Aku bertemu anak setinggi lututku yang menari-nari begitu lincahnya, dengan spirit yang terus menyala hingga kami, yang sudah jompo ini, kewalahan menerima energi milik anak yang bahkan baru kami kenal malam ini. 


Malam ini aku juga bertemu alunan nada, yang bertemu dengan kata-kata yang tak kunjung kutemui di tepian malam ketika bus trayek 3A terakhir membawaku pergi, pergi dan melenyapkan kata-kata perwakilan atas afeksi yang ada di sepotong organ milikku yang segan untuk dikenali. 


Oiya, Ibu, aku juga membaca dan mengamini puisi pada malam ini!! Aku menangis sedikit, karena aku malu kepada lampu dan juga pasang mata yang mengikutiku, menangis banyaknya saat aku pulang bersama hujan. Aku kagum bagaimana kata-kata bisa menciptakan kekuatan yang indah untuk meruntuhkan pertahanan yang kubangun sejak tak tahu kapan. Aku kagum bagaimana orang-orang dengan caranya sendiri, yang begitu indah, mengimani begitu banyak cara untuk mencintai!! Oh ibu, aku harap aku bisa menunjukkanmu begitu banyak wujud cinta yang aku tangkap pada malam hari ini. Warna-warni bu, dan beragam, ada yang silinder dengan cahaya berpendar, ada pula yang seperti halogen, ada yang berbentuk semacam makhluk berbulu raksasa dengan warna ungu dengan corak kuning di bagian perutnya. 


Aku suka sekali, menikmati bagaimana afeksi melambung di antara udara, seperti ada bintang-bintang yang berhamburan, meledak dari dadaku, lalu berdansa dan menjadi asal muasal dari hidup dan semesta. 

Komentar

Postingan Populer