Di Balik Bingkai Kaca, Kepada Agus Suwage dan Pusaka Warna

 Perjalanan impromptu hari Sabtu pekan pertama milik Mei adalah menuju festival buku dan seni di pinggiran Ringroad Selatan. Terlampau yakin memang, bermodalkan pengetahuan terbatas atas jalur trayek bus kota yang melewatinya, butuh transit dua kali dengan durasi tunggu lebih dari setengah jam untuk mencapai lokasi. Bukan, bukan menunggu yang membuatku jemu, tapi mlesetnya prakiraan waktu. Aku punya sebuah janji dengan waktu, menyia-nyiakannya berarti menghkhianatiku. Janji ini yang terus aku ulang pada tiap-tiap berjumpa dengan pertemuan. 

Oh, aku terlampau percaya diri lagi. 

Gelar festival buku sudah tutup. Yang ada tingga ruang pamer berisi karya, dan juga beberapa program bedah buku dan penutup yang dilaksanakan beberapa hari lagi. 

Adalah berita bagus, kekecewaan sudah tak ada sisa dari diriku. Aku melayangkan senyum, galerry sitter berkacamata itu membalasnya, dan matanya mengekor kakiku yang kemudian tanpa agenda melihat-lihat instalasi karya. Katanya, informasi mengenai penutupan gelar festival buku sudah ada pada media sosial mereka. Aku tidak berekspetasi apa-apa. 

Bertemu dengan salah karya ilustrator dalam seri buku anak"Petualangan Mata" milik Okky Mandasari, aku menemukan yang lain lagi dari kepribadian ciri seni yang ada padanya. Sebagaimana  tumpuk-menumpuk, dalam citra manusia, dalam pertemanan juga dalam hunian. Pilu, dan aku seperti ikut teriris dan ditumpuk jadi satu. Ruang kubus ini menjelma jadi sebuah tatakan untuk tumpukan waffle dengan kaki-tangan, mata-telinga, lidah-kepala. Ditumpuk satu per satu. 

Dan, memang, aku tidak berekspetasi apa-apa. 

Kepada Agus Suwage, aku tidak punya ekspetasi apa-apa.

Hingga aku merasakan ledakan yang meletup perlahan. Menggeram di balik perut, merayap di antara dinding-dinding hati, bergetar dan merembes panasnya kepada ujung-ujung kelopak mata. Sial. Aku menangis. 

Aku menangis di hadapan lukisan Agus Suwage. 

Kepada merah dan kuning yang menjalar atas magma bernanah yang lebur, membelah mistiknya ungu indigo gelap yang jadi lanskap membentuk gunung. Dengan dasaran kertas buku tulis yang dikenainya tulisan, ada kedalaman atas bayangan dan juga cahaya yang menelanku bulat-bulat. Seakan membacakan mantra, menariku kuat-kuat. 

Letusan Pada Hari Minggu After Raden Saleh. Agus Suwage 2018


Aku menghilang di antara kerumunan, jepret foto juga percakapan-percakapan. Menghilang aku menjelma jadi abu, jadi panas dan jadi batu. Menjelma aku jadi titik-titik percik api yang meluap dan memantik. Ada sesuatu di antara warna ungu dengan bayangan biru indigo yang dipakai oleh Agus Suwage yang membuatku lebur kepadanya. Sepertinya semacam mantra. Dalam waktu lima menit delapan belas detik aku terpaku. Lalu -lalang orang di belakangku. Dan aku memaku. Kaki yang berpijak pada ubin plaster berjalak kurang dari dua meter dari muka luksian itu tak mau beranjak. 

Aku menyeka mata. Entah matera keberapa yang dititipkan Agus Suwage padanya, tapi ini sudah kedua kali aku menyeka mata dengan ujung-ujung jilbab segi empat yang kukenakan. Di luar bising. Orang-orang berlalu-lalang. Di luar bising. Orang-orang membeli waktu. Aku masih terpaku dengan mata merahku. 

Pukul tiga, aku sudah harus kembali ke kantor. 

Nadiku tertinggal, pada merah dan kuning yang panas. Pada ambang batas. 


Yogyakarta, 6 Mei 2023

Art+Book Festival, The Ratan

Komentar

Postingan Populer