Di Bawah Pohon Kelengkeng : memorabilia dalam merayakan perpisahan kawan lama.
Sepuluh tahun silam, tiga bocah ingusan berlaru dari penjuru barat, timur dan juga selatan. Poros yang dituju satu : Pohon kelengkeng besar di pekarangan sebelah timur Mushola. Sebagai teritori terdekat, Za dengan sigap memanjat batang pohon kelengkeng yang berumur lima kali lipat umurnya. Disusul Mba Ipit dari timur, yang kemudian bertengger di dahan paling barat. Aku yang terakhir sampai, dengan napas sepenggal-penggal, aku naik dengan agak malas, karena tempat yang tersisa adalah pang (bagian temu percabangan) di tengah-tengah, paling rendah dan juga paling menyebalkan karena jadi arus utama bagi berlalu-lalang orang-orang yang hendak berpindah pang.
Matahari sudah naik, di jam yang sama pada sepuluh tahun silam, hari minggu keempat di bulan Agustus tahun 2023, aku, yang juga berlari-lari agak tergesa menuju poros pohon kelengkeng dengan umur lima kali lipat lebih tua. Di persimpangan jalan dari toko bangunan FG, aku bertemu dengan Za yang juga menuju ke arah yang sama. Dimocarpus longan. Pohon lengkeng.
![]() |
| Za dan buket bunga di tangannya. |
Za, dengan kebaya payet kristal hijau, ronce bunga melati menjulur , rangkaian Easter Lily-Lilium longiflorum-bersama beberapa tangkai Rosa alba, Frost Aster-Symphyotrichum pilosum-turut merayakan keagungan putih. Sebuah bahasa bunga atas kesederhanaan dalam kemurnian, sebagaimana akad terucap pada pagi-pagi sekali di mushola kecil tempat kami kecil berkumpul, mendengarkan dengan gembira cerita nabi-nabi di terasnya.
Aku, yang memegang penuh keyakinan bahwa tiada kebetulan di dunia ini, yakin sebetul-betulnya bahwa ritus yang kami semua saksikan pagi ini adalah ia terikat kuat dengan akar pohon kelengkeng dan mushola kecil kami yang berhimpit dengan toko besi, juga dengan memorabilia masa kecil kami.
Sudah menjadi rahasia umum di desa kami bahwa keterikatan identitas aku, Za serta Mba Ipit adalah sebagai tiga kurcil badung “penjaga” pohon kelengkeng. Apabila tidak ditemui di seputaran pohon kelengkeng, probabilitas paling besar adalah kami sedang di Kali atau di sawah siapapun yang tumbuh pohon ocen-ocen, Rubus rosifolius.
Sebetulnya, ada hutang waktu untuk kami saling berbagi. Begitu banyak pertanyaan. Bagaimana konsep welas-asih yang diharapkan Za, bagaimana baginya memutuskan untuk menetap, bagaimana suaka dalam rumah yang ada di kepalanya, what she is longing for, how and many how. But then, we come to the time.
Hari ini, meskipun belum full team, karena Mba Ipit sedang menyelesaikan program KKN-nya, aku dan pohon kelengkeng bersepakat untuk melepas Za untuk menjadi dirinya dengan identitas baru yang berikatan selepas ijab ditunaikan. Sebagaimana ular-ular (wejangan pernikahan) yang disampaikan dari pihak pria dengan jelas dan penuh melegitimasikan bahwa Za akan diboyong menuju rumah pihak pria.
Selepas ini, mungkin kegiatan merecoki dapur Za untuk membuat kue kering menjelang Hari Raya, atau saling menghampiri tiap malam Jum’at untuk bersama-sama Yasinan bersama remaja dusun, atau nyengkuyung bersam di agenda rewang di pawon-pawon lainnya sudah tidak lagi bisa kita lakukan bersama.
Bukan, bukan atas dasar kesedihan untuk melepaskan Za menuju rumah dengan pohon kelengkeng-pohon kelengkeng baru lainnya. Ini adalah hari bahagia miliknya. Ini bukanlah sebuah sabotase makna dalam pewarnaan cerita, ini perayaan atas perpisahan yang muncul secara sadar, untuk kemudian jadi perpanjangan tangan atas apa-apa perasaan milik pohon kelengkeng kami ini. Sejujur-jujurnya.
Di bawah pohon kelengkeng,
27 Agustus 2023

Komentar
Posting Komentar