Lalu lalang kematian : kebaikan yang sepintas dan keabadian yang merayakannya
Sudah berpuluh kali kematian yang aku jumpai, aku tuan-rumahi dan aku jelajahi dalam agenda rewang-rewang bersama kami. Aku dan sepotong hati yang bukan milikku juga. Sesungguhnya segala hal yang fana ini tidak pada kita kuasa atasnya. Aku sungguh-sungguh ketika bilang bahwa kita tak pernah mengetahui akankah kita bertemu jodoh kematian atau jodoh keluaga terlebih dahulu. Aku sungguh-sungguh, karena aku adalah saksi dari orang-orang yang menemui jodoh kematian terlebih dahulu. Aku ada dan aku hadir di antara mereka.
Beribu-ribu bulir air mata dan juga percakapan hambar sudah menjejali rumah duka dengan bilik-bilik terbuka. Menguar dari sana kehampaan dan juga pertanyaan tentang keberlanjutan kehidupan di dalamnya. Diantarkan tak kasat mata oleh angin, diam-diam ditelusuri oleh malam. Malam, sebagaimana ia menjadi perjalanan-perjalanan impromptu dengan ketergesaan.
Selepas menyelesaikan observasi di Selatan, mengicipi prelude untuk rapat, masih juga dengan kepala yang berpencar-pencar isinya. Aku pulang. Dengan segala kebuntuan dan ketergesaan keputusan, aku dan mbak pulang melintang Maghrib demi menyaksikan rumah duka yang tepat di samping kiri rumah kami. Aku mengurus izin kelas malam di asrama sepanjang perjalanan. Merapal zikir sepanjang Maghrib, hanya itu yang bisa dilakukan. Tidak ada waktu untuk mengeja perasaan-perasaan yang tidak berhasil kuidentifikasi sebelumnya. Waktu dikejar duka hingga terlmabat tidak lagi memliki tempat.
Mbak S, dengan segala keserderhanaan dalam keikhlasan di tiap-tiap yang dikerjakannya, sudah tiada. Ketiadaan yang senantiasa membuatku bertanya-tanya, bagaimana sebuah konsep kehilangan dan juga kematian jadi hal konkrit yang hadir di depan mata. Menyoal kematian dan apa-apa yang ditinggalkannya. Hanya ada ingatan akan budi baik, dengan gesture-gesture kecil yang hadir tanpa disadari, Mbak S membuatku melihat umur akan hal-hal kecil hidup lebih lama dari pelakunya.
Seikat sawi, satu lirang pisang, satu kresek hitam salak. Sapaan ketika aku pulang barang sebentar. Ajakan pulang bersama dari Musholla. Biarkan aku jadi saksi atas kesediaan untuk berbagi kebaikan. Kebaikan yang mungkin sudah dilupakan.
Apakah juga, dia segaja melupakan? apakah pernah ingat dia meyoal kesepian dan juga masa-masa dia akan ditinggalkan ataupun meninggalkan? Apakah hadir pula perasaan-perasaan asing atas abstraknya eksistensi manusia dan apa yang dikuasainya?
Apakah pertanyaan-pertanyaan itu akan mengurangi kepeduliannya atas kebaikan yang dilakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan turut mengalir membersamai perasaa ganjil miliku yang kusimpan sediri, rapat-rapat. Yang jarang kubuka, yang pada mulanya akan keluar ketika kubawa pada perjamuan-perjamuan atas kematian.
Sudah menuju larut, dari jauh tenda biru tepat di pelataran rumah kami terduduk layu. Lampu jalan yang tak pernah becus menerangi lengkung belokan menandai kepulangan kami (aku dan mbak) atas bayang-bayang.
hari kesembilan Juli, 2023
Komentar
Posting Komentar