bohong
Aku harap aku berhenti bohong dan kehidupan mau melawan kebohongan yang kuucapkan. Simbah baik-bak saja. Simbah membaik. Keadaannya sudah semakin pulih. Sekarang sudah semakin sehat. Kebohongan yang harus kumuntahkan dalam pertemuan dengan kerabat-kerabat, sahabat-sahabat. Maaf, sungguh.
Kasur nomor dua dalam ruangan kubus putih bersekat tirai biru langit. Mengingatkanku pada sesuatu. Mengingatkanku pada langit yang lapang pagi hari ini. Tapi tidak dengan UGD siang menjelang sore selepas kelas kuliah yang harusnya ada di lantai kedua gedung kuliah satu di ruang kedua. Kasur nomor dua. Bunyi-bunyian dari monitor dan juga mesin-mesin yang digantung setinggi kepala membuat nanar memecah senyap yang dikurung dibalik dada. UGD ramai. Ambulans berlalu lalang sejak Ibu mengantar, hingga sekarang. Baru saja aku disapa ambulans dengan stiker ikan koi di badan sebelah kiri. Beberapa orang berlari. Ibu-ibu berdiri, aku masuk kembali. Dingin di dalam tidak seraya membuatku betah berlama-lama, meski matahari menyengat di luar sana.
Lalu aku mulai mengabsen angka-angka. 120/74-magenta di monitor. 60, 50, 40, 30, 20, 15-derajat yang terukir di paramount bed sebelah kanan dan kiri. 4/24-spidol di plester infus. DAK 2020-spidol, Bedaside monitor. 104-huaaaagrh. Dari lorong nampak suara-suara. Kurasa itu nyawa yang dibungkusnya, atau doa, atau pula rasa percaya. Suara-suara membawa pada dimensi realitas yang lain hampa. Sebagaimana pandangan Simbah saat menatapku yang menunggu. Simbah tidak bisa meraih referensi namaku di antara neuron-neuron miliknya yang saling menyetrum. Simbah memanggilmu tanpa tahu namaku-72 magenta, layar monitor berpendar.
Sudah dua kali putaran bed ditukar, dua kali pula wajah-wajah yang menunggui pasien di kasur pertama berganti. Layar pembatas didirikan antara kami. Sayup-sayup tentang suara, aku curi dengar akan bagaimana pengharapan jadi sebuah kekuatan yang hadir diantara rintihan-rintihan yang merapal nama tuhan.
“ngapuro yoo, ngapuroo”
“aku minta maaf ya, maaf sekali”
Sudah terhitung delapan kali perempuan paruh baya berumur sedikit lebih muda dari Simbah merintihkan permohonan maaf pada dua orang yang menemaninya, yang hipotesisku mengatakan bahwa mereka anaknya, dua-duanya laki-laki. Yang berbaju kuning dengan lembut memberi reassurance kepadanya, dengan tegas dan cekatan melakukan apa yang diminta. Yang berbadan lebih besar berkaus abu memilih lebih banyak diam, sepertiku. Mata kamu bertubrukan dan aku rasa kita sama-sama menemukan kehampaan dan juga lelah yang tinggal di bola mata kami. Permohonan maaf terus dirapal dalam rintihan, menyatu dengan suara beep beep dua kali yang berbunyi dari monitor sebanyak tigapuluh detik sekali.
“ngapuro yoo”
(maafkan aku)
beep.. beep
blink (kedipan biru dari bed monitor tiap detik)
blink
blink
“ngapuro”
(maaf)
blink
“huuu ngapuro yo”
(huhuhu maafkan aku)
blink
Simbah terdiam. Aku juga. Aku sibuk menangkap peristiwa dan apa-apa yang kurasakan diantaranya. Apa-apa yang berkelana dan salmon-salmon di dalam kepalaku bercerita. Selang infus dan oxygen diffuser jadi arus balik salmon-salmon di kepalaku. Begitu deras tapi tanpa suara. Begitu pula Simbah yang juga tak pernah bicara mengenai keluhannya. Aku sedikit banyak mereduplikasi apa yang dicontohkannya. Tak banyak bicara atas apa-apa yang kemudian membawaku ke perinapan dan perawatan khusus. Sedikit banyak aku belajar bagaimana aku menjadi dari orang-orang di sekelilingku, dari orang-orang yang aku sayangi, dari orang-orang yang juga telah pergi. Dengannya pula aku belajar bahwa melebur cinta dalam segala perasaan yang ada menjadi hal yang begitu indah, sedih dan kecemasan. Menjadi hidup dan menghidupi hal-hal yang direlakan, diikhlaskan dan dilarung dalam kekuasaan yang hadir dibalik otoritas manusia.
Untukku sendiri, aku jadi mengenali bagaimana ketakutan juga berlandaskan cinta, dan aku rasa aku baru mengidentifikasinya. Dalam kesadaranku yang mengawang di antara kedip bunyi monitor di sisi kasur pasien dan sirine ambulans yang terus menerus berdatangan, aku mengenali satu jenis ketakutan yang mungkin akan neggerogoti dadaku ketika aku bersama ketidaksiapan untuk menyalami perpisahan.
Komentar
Posting Komentar