Pulang Pasca Pentas
Pukul delapan malam. Bukan waktu yang terlalu larut untuk melanjutkan perjalanan. Tapi iklim perbatasan Merbabu-Merapi jadi variabel lain lagi. Selepas pentas dua hari di Ngablak, dengan pangung yang dilatarbelakangi oleh Gunung Andong, sebuah pengalaman yang jarang-jarang kudapatkan dengan suhu menyentuh belasan derajat di subuh itu, rasa-rasanya punggung Merapi masih luas yang belum kukenali. Kami terus menuruni perbukitan dan sampai di Mendut. Menurunkan properti, kostum, artistik dan beberapa barang. Kami teru melaju hingga Mertoyudan.
"Kamu pulang kemana? Jogja?" tanya salah satu kawan.
Memutuskannya sebetulnya tidak perlu waktu lama, karena sejujurnya dengan kesadaran penuh aku merindukan pulang.
"Ndak, aku akan pulang ke rumah sepertinya. Aku duluan ya!" Dengan menandaskan segelas teh hangat manis yang justru membuat dahagaku kian meradang, berbagi peluk pada kawan-kawan dan memanaskan motor yang sudah kemana-mana bertualang, kini kita pulang! George Duke dengan "Until Sunrise" menemaniku naik ke kaki Merapi. Aku belum bilang orang-orang rumah bahwa aku pulang dari pertunjukan malam ini. Tapi tiada ketakutan yang menghampiri. Entah, kini perjalanan menuju rumah terasa lebih ringan dan menyenangkan, kurasa, meskipun sesekali kena semprot hujan atau kepanasan di tengah jalan. Tapi aku cukup menikmatinya.
Motor sudah bertengger di halam rumah belakang, bocah-bocah tengil Si Bolu, kucing loreng hasil adopsi Mbakyu menyalamiku dengan ngeong-ngeong ciliknya. Berebutan. Lampu rumah sudah temaram, sepertinya manusia-manusia yang meninggalinya telah beranjak ke peraduan.
"Kring...kring.... Halo!" Mbakyu mengangkat telfonku yang tanpa aba-aba. Bising dan diiringi musik yang biasa di stel di warung kopi.
"Halo,... kamu ndak di rumah ya?"
"Engga, aku di cafe inii. Besok kan aku berangkat ke Garut! Rencananya aku mau menginap di kosmu, tapi kupikir aku nginep di tempat temanku saja"
"Aku baru saja sampai rumah"
"Hahahahaha" Kami terbahak. Percakapan yang sungguh mengundang gelak. Pembacaan kami tentang skenario yang diinginkan dan juga yang kami lakukan benar-benar bertubrukan. Mbakyu mau ke jogja untuk menemuiku dan paginya berencana akan kuantarkan ke stasiun, seperti biasanya. Sedang, aku pulang dari pementasan untuk ke rumah dan memintak Mbakyu membukakan pintu belakang untukku lalu kita masak sup jagung hangat bersama. Unik.
Tapi tak apa, aku menutup telfon itu dengan doa dan harap-harap keselamatan menemaninya dan orang-orang yang akan ditemuinya. Dia merutukiku karena aku baru menyampaikan rencanaku ke Garut pas di hari di mana dia pulang dari sana. Pergantian pemain, ujarku.
Dengan beberapa ketukan pelan, aku dibukakan pintu. Ibu tak menyangka aku akan pulang. Aku hanya meringis, salim dan memasukkan barang-barang. Ibu, layaknya yang biasa dilakukan, menghangatkan kuah bakso yang dibuatnya tadi sambil menyuruhku makan malam dahulu. Tidak ada interogasi dan juga tuntutan menjawab yang macam-macam, ketakutan yang kadang tersimpan.
Aku mencium pipi orang-orang rumah, suatu hal yang jarang kulakukan, yang aku belajar untuk menujukkan intimasi dalam afeksi lebih baik lagi. Meskipun, tentu bau badanku sepertinya sedikit mengganggu. Berbersih, meminum air putih bergelas-gelas, sebagaimana kebiasaanku di malam hari dan membalas pesan-pesan serta surel yang sudah menunggu selama lebih dari tiga hari.
Menutup malam, aku menyisipkan apresiasi dan juga rasa terima kasih buat orang-orang yang sudah menemai berproses, serta menanyakan bagaimana keadaan mereka. Memastikan sudahkah mereka kembali di tempat yang dirasa aman dan nyaman untuknya pulang. Malam semakin matang dan kesadaran bahwasanya pulang kali ini benar-benar menyenangkan membuatku tersadar. Pasca pentas, kegiatan atau hal-hal yang menguras energi dan emosi dapat dilarung dengan dibukakan pintu, dan dipeluk dengan diam yang menghangatkan tanpa perlu bertanya macam-macam karena sudah mengerti.
The art of understanding is the greatest language of love.
Meski besoknya demam dan tewas seharian, aku pelan-pelan mengambil keping-keping diriku dan menyusunnya. Kemudian dengan daster merah yang jadi pakaian paling menyenangkan di rumah, aku menunaikan ibadah cinta yang sangat kusukai. Berbagi. Memasak bubur untuk simbah dan Mbokde, menjerang air, mengolah pisang-pisang yang overipe dan kopi menjadi roti, melakukan kerja-kerja perawatan atau caregiving. Doaku tiap pagi, untuk selalu dapat menghadirkan sabar dalam merawat dan berbagi.
Komentar
Posting Komentar