Mboké dan Remahan-remahan di Bawah Meja
Pagi mengundang Matahari di balik kepulan asap dapur milik para perempuan lereng Gunung Merapi. Aroma bumbu halus bawang putih yang digoreng, terasi dan sesekali bau daging sapi. Putih mengepul ke atas berserah dan meleleh pada para kumulus, bergerak perlahan menuju Barat yang terlambat bergegas. Serupa angin, sapu telah melaksanakan tugasnya untuk membawa sisa-sisa hari kemarin. Mengumpulkan remah-remah yang dibiarkan, didiamkan tak diajak berbicara. Tak terkecuali remahan di bawah sofa panjang tempat Mboké menerima tamu-tamunya.
Pagi ini (atau mungkin bisa kubilang milik hari kemarin) kudapati remah-remah keripik pisang karamel. Nampak sudah lembab dan juga masuk angin sejak kemarin, kuningnya memudar dan berat di sela-sela rambut sapu. Lain lagi dengan kemarin, remah-remahan kue keju palm yang hampir hilang gula palem-nya. Kemarin-kemarinnya lagi juga. Kastengel dan juga wafer. Hampir semua kue-kue di toples menjatuhkan diri dan bersembunyi di bawah sofa pajang. Kufikir apakah mungkin anak-anak kecil yang datang selalu menyembunyikan kue-kue kesukaannya di bawah sofa? Semakin kufikir semakin tidak mungkin karena toples yang ramai dikerubungi anak-anak kecil itu berada di meja bundar karpet lesehan. Gula-gula dan juga makanan yang berwarna. Maka tak lain tak bukan Mboké adalah aktor utamanya.
Di usia senja ini bukanlah tak mungkin Mboké kehilangan kekuatan motoriknya. Sejak tahun lalu kekuatan otot kaki menumpu massa badannya sudah semakin menurun. Langkah kecil-kecil dan diseret berat dengan sandal selop karet merah miliknya mengeluarkan decit yang berima dengan ayunan jarik gaya solo yang dikenakan seadanya. Mboké memegang laku hidup perempuan jawa yang terampil dan adaptif dalam kondisi, seperti kancil yang gesit meloncati moncong-moncong buaya di muara. Keteraturan adalah hal yag lian. Sejak kecil mengurus hal-hal yang lebih besar dari dirinya sendiri membuatnya berselancar pada ketidakteraturan. Kehilangan dan juga penerimaan yang tak mengenal jeda, bahwasanya hidup perlu dijalani dan tak pernah terputus. Sehingga keadaan yang membuat tungkai kaki tak dapat membawanya kesana-kemari menjadi menyebalkan sekali. Walau tanpa mengeluhkannya, sorot matanya rindu akan cahaya membawanya ke tanah yang diakrabinya tanpa alas kaki. Membumi. Lantai keramik dengan dingin yang menggerayangi harus dihadapi tiap hari. Dingin yang juga menelan kata-kata di kepalanya. Yang tersisa remah-remah di bawah sofa.
Aku tak pernah mepertanyakan atau mengeluhkan remah-remah hingga suatu hari Maé meneriakkan namaku dengan antusias seperti anak kecil yang hendak menujukkan mainan barunya.
"Sini lihat sinii! Tak weruhi" Tak perlihatkan sesuatu.
Maé tengah duduk di samping Mboké yang sedang mengulum kue-kue kering manis di hadapannya. Dengan mulutnya yang kian keriput dan rahang yang tak kuasa mengunyah jenis makanan keras, maka saliva berperan penting buat mengeja rasa yang diraba oleh lidahnya. Sejumput remah kue kering yang ia makan dilemparkan ke lantai. Dikerubungi semut yang berbaris dari ujung tembok kuning. Di bawah sana barisan-barisan semut nampak riang gembira mengerubuti remah yang baru, di samping beberapa remahan yang telah dikerubuti oleh satu koloni.
"Nah, ngono kui Mboké nek maem ki sambi diwehke semut. Nek ono kucing yo teko dibagi kucing, nek ora yo diremuk cilik-cilik ngono diwehne semut"
(Mboké makannya seperti itu, sambil dibagi semut. Kalau ada kucing ya dibagi ke kucing tapai kalau tidak ada kucing akan diremukkan kecil-kecil dijatuhkan buat para semut"
"Hayo ték, nek misal e ono semut ki ya wah..ana semut! iki dipangan. Rejekine semut kui"
(Jelaslah, kalau misal ada semut ya dibagi untuk dimakan) Tangan Mboké meremukkan lagi satu wafer cokelat dari kaleng dan dilemparkan ke arah semut, memperagakan apa yang dikatakan. Maé terkikik dan mengerlingkan mata padaku, menambahkan informasi bahwasanya kebiasaan ini sudah ada sejak lama. Sejak lantai rumah Mboké masih tanah, sejak Maé kecil dan berlarian di antara rigen tembakau yang dijemur. Mboké terkekeh, dengan batuk-batuk kecil yang mengiringinya.
Rupanya remah-remahan kolong meja adalah bijaknya Mboké akan asih-asuh sesama makhluk hidup. Laku hidup yang turut menyertakan yang lain dalam maslahat yang dimilikinya selamanya menjadi indah kurasa, bahasa cinta yang melipat jarak jasadiyah. Rahmat yang menjelma gumpalan-gumpalan kue kering, gula-gula dan juga wafer berwarna. Kebaikan yang sembunyi di kolong sofa.
Dukun
7 April 2025
Komentar
Posting Komentar