Menu makanan : Protein, vitamin A, C, dan E, serta Air putih

 Bulan lalu Mboké masuk ICU, diantar ambulans. Punggung belakangnya digerogoti oleh luka nanah dan darah. Besarnya sekepal dan berbau amis bukan kepalang. Ulkus debitus tingkat tiga. Sudah sejak lama imobilitas menghampiri Mboké. Jaringan syaraf yang sudah tidak dapat bekerja seperti sedia kala membuat hari-harinya berbaring di kasur. Pemaknaan hari dan waktu sudah terbengkalai macam rambutnya yang sudah terurai berantakan. Terakhir kali aku melihatnya menyisir rambutnya yang putih pajang menjuntai dan menggelung dengan sisir gading sudah lebih dari tiga ratus hari silam. Tak hanya membuatnya imobilitas, syaraf yang sudah menyerah padanya membuat kadar toleransi suhu di tubuhnya tak berjalan sebagai mana mestinya. 


Dua bulan lalu Mboké sudah tidak lagi bisa memaksa lututnya mengantarkan dirinya ke kamar mandi. Sejak saat itu punggungn menumpu massa tubuh terus menerus di baringnya, disaksikan oleh rintih-rintih lirih. Tumpuan yang terus-menerus pun akan meradang pada akhirnya. Luka terbuka jaringan kulit yang menyebabkan nanah dan daa

h menguar di punggung sebelah kanan di bawah tulang rusuk tepatnya. Dokter di ICU bilang bahwa perlu operasi pengangkatan jaringan dan perawatan intensif. Aku dan Ibu berpandangan. Saat pulang kepalaku dikepung jumlah nominal sekian. 


Namun Ibu tidak pernah menyerah akan sesuatu. Seperti keteguhan dia untuk tetap menghidupkan cinta di lahan-lahan yang gersang. Kerja perawatan (carework) dilakukan ibu dengan ringan dan antusias. Setiap pagi ia akan tersenyum dan menyambut pagi pada dipan perintihan Mboké yang gelap. Ia adalah matahari itu sendiri. Yang dikerjakannya bukan hanya membersihkan luka dan memberikan dosis obat saja dengan jadwal yang sudah mengharuskannya. Tapi menjadi lembut, menemani dan menggali cerita yang membuat nyala mata Mboké jadi hidup, mentertawakan hal-hal yang teramat serius. Ibu dan kemampuannya untuk masih bisa melucu di situasi-situasi ini sungguh mengaggumkan buatku. For her, love is an opportunity not a burden. Itu adalah nafasnya. 


Ritual membantu menggantikan perban dan kassa pembalut Mboké adalah hal yang membuatku merasakan hubungan maternal yang amat kental. Dada Mboké yang naik turun menahan perih yang dirasakannya. Punggung tangan yang keriput dan kurang hidrasi. Bau yang khas-yang terkadang aku butuh menahan napas lebih lama dari biasanya agar tidak merangsang syaraf di kepala. Doa dan cerita Maé yang dirapalkan tak henti-hentinya. Maé sebetulnya melarangku buat turut serta. Tapi selayaknya tabiat rebel yang mengalir di nadiku, aku bersikeras ikut andil dalam laku perawatan di masa-masa yang sulit. Tanganku sudah dihuni dengan kain kasa dan obat yang digunakan pada jam-jam pergantian perban dengan senyum penasaran tak bersalah yang menenggelamkan rasa ragu Maé.  Seseorang pernah bilang padaku bahwa ia mengamini bentuk cinta dalam aksi nyata. Itu yang kujadikan nafas ketika luka amis menguar dan kepala yang berdenyut-denyut karenanya.  


Dalam gelap aku mengetahui bagaima ibu menyelinap ke bilik Mboké buat mengelus pucuk rambutnya yang penuh uban dan menangis dengan diam. Ia meminta maaf atas rintih dan sakit yang harus dirasakan Mboké saat dirawatnya. Ia meminta maaf atas ketidaknyamanan yang harus dilalui untuk tetap bertahan. Karena ia tahu upayanya bukan sebuah perlawanan melawan sakit yang ditakdirkannya, justru ini adalah siasat menerimanya. 


“Yo wong emang wis tua kok ya..” 

Ya karena memang sudah tua.


Pakde, anak pertama Simbok mengelap matanya yang berair dengan ujung sarungnya. Ia lepas menengok ke bilik Mboké dan menanyakan keadaanya saat ini. Ibu menjelaskan bagaimana yang sedang dihadapi itu takdir yang sudah sejatinya terjadi. Pipi Pakde panas, fakta bahwa memang Mboké-nya mereka dicabut satu per satu kemampuanya oleh Gusti adalah sebuah hal yang sepatutnya ia hadapi. Mungkin, baginya hal ini terjadi lebih cepat dari yang ia pikirkan. Mungkin, baginya sembunyi bahwa “setelah ini Mboké akan sembuh” masih jadi pelarian untuk alternatif realitas yang ada di kepalanya. Tapi itu tidak, Ibu menyatakan senyata-nyatanya. Jeda terlalu lama menggantung di udara. Kekosongan itu diisi oleh pisau yang mengiris bawang merah buatku memasak nasi goreng kambing malam ini. Kemiri, aku melupakannya. Aku undur diri dari percakapan kakak-adik itu dan bergegas mengayuh pedal sepeda ke warung kelontong satu-satunya yang buka di malam hari milik Bu Endang di kiri jalan. Aku tak membayangkan apa yang menghuni ruang vakum antar percakapan yang kutinggalkan. Penyesalan dan ketakutan kadang tak berani menampakkan diri dalam bentuk kata yang rapi. 

Komentar

Postingan Populer