Badai di luar, hangat di dalam: Ibu dan koin kerokannya.

"Nita ki nek bali muk pas loro." 

"Nita pulangnya kalau sakit saja." Selorohan getir dan sarkas terucap dari kakak pertamaku. Nita adalah panggilan kecil di rumah. Hampir semua orang memanggilku dengan julukan saat SMA, nama lengkap atau nama yang ia kenal saat ada di periode tertentu hidupku. Tapi Nita, itu khsusu untuk keluarga yang membuatku terasa kembali menjadi gadis kecil yang suka berlarian di pematang sawah atau memanjat pohon kelengkeng di sebelah utara Mushola. 

Hari ini aku pulang lagi, dan seperti yang dibilang kakakku, aku akan pulang ketika sakit. Aku cukup malu mengakui itu, tapi memang kenyataannya rumah adalah satu-satunya tempat yang menerimaku ketika hatiku terkoyak-koyak atau sendiku patah dalam perjalanan menerjang batas mimpi dan kenyataan. Hanya ada satu tujuan. Pulang. 

Sakit kali ini tidak bisa dikatakan parah sekali. Bahkan awalnya aku mengelak, karena aku ingin pulang kali ini membawakan berita gembira dan buah tangan untuk ibu. Tahun ini beliau memasuki usia pra-Lansia. Keriputnya sudah kian bertambah, juga belang di mukanya berkat terik matahari yang senantiasa menyapanya tiap hari. Pesannya ia hanya menceritakan ia ingin tumblr yang bisa dibawa kemana-mana, sebab botol minum yang kuberikan padanya malah dipakai Bapak! Di hari-hari musim hujan tahun lalu aku inisiatif membelikan Ibu tumblr yang dapat menyimpan panas, sebab musim flu dan Ibu pasti butuh minum air hangat. Sayangnya di pekan selanjutnya kulihat tumblr itu telah bertengger di mobil Bapak, lalu Ibu mengadu bahwa tumblr itu diambil Bapak. 

Mungkin perkara ini adalah hal yang remeh dan sebenarnya bukan menjadi masalah yang perlu dibesarkan. Tapi hal-hal kecil ini kadang membuat kita menyepelekan apa yang jadi milik Ibu. Makanan kesukaan Ibu? tak pernah ada, karena ia memasak yang disukai oleh Bapak dan anak-anaknya. Baju kesukaan ibu? baju yang ada, baju yang dibelikan. Kue milik Ibu? yang menghabiskan anak-anaknya. 

Aku lupa terakhir kali Ibu mengode untuk bertamasya ke tempat yang ia sukai, dan tentu saja tak pernah kode itu sampai pada kepala Bapak maupun anak-anaknya. Mungkin sudah sejak lama Ibu mengubur keinginannya, mungkin juga ia memang jarang sekali berkeinginan-keinginan. Ingin diperhatikan, ingin didengarkan, ingin dipahami. 

Hari kemarin, di dalam bingkisan kecil berisi mukena, kerudung, dua botol tumblr dan juga kue keju (yang tak disangka-sangka oleh Ibu) senyum Ibu merekah. Awalnya dikiranya di dalam paper bag itu adalah barang-barang milikku sepenuhnya, dan hanya ada satu tumblr merah untuknya. Ibu masih tak menyangka jadi aku menceritakan bahwa seisi paperbag ialah miliknya, termasuk juga dua botol tumblr yang membuatku dan kakakku berdebat perkara mana yang paling cocok untuk ibu. Ini bukan perkara mana yang ibu suka, tapi perkara seberapa kita mencurahkan perhatian akan apa yang berguna dan menyenangkan dipakainya. Senyum ibu bukan perkara benda yang kubawakan hari itu, melainkan perasaan dimengerti dan inisiasi untuk diperhatikan oleh orang tersayang. 

Malam itu juga selepas membuat oseng tempe lombok ijo (menu utama bersama nasi kuning), migraine yang kutahan sejak beberapa hari yang lalu pecah dan berdenging di kepala. Segala peristiwa berputar di kepala, menyisakan deru hujan yang meringkus malam itu dengan dingin menembus 13 derajat selsius. Ibu masih di Mushola, ngaji simakan katanya. Deru hujan kian memburu. Aku tanya kakak apakah Ibu membawa payung? bagaimana pulangnya? apakah kemalaman?

Aku separuh tertidur, dengan sisa-sisa sel otak yang hangus berkat medan migraine yang membakar hangus sel-sel otak miliku di beberapa hari belakang. Dari tangga meuju kamar lantai atas, Ibu dengan sajadah di kepala menawarkan dengan mata berbinar apakah aku mau dikeroki. kerokan adalah suatu ikatan yang kualami dengan Ibu dan Mboke. Motherhood. Mboke sering meminta Ibu mengerokinya, begitu pula sebaliknya, aku telah dikenalkan kerokan sejak aku umur lima dan saat itu masih menggunakan bawang merah yang baunya bikin tambah pusing kepalaku. Aku juga sering diminta Ibu mengerokinya saat tak enak badan, atau kepada Mbok e ketika salah satunya sedang tak bisa menunaikan ibadah kerokan. It's our things. 

Malam itu selepas dikerok, ibu memijit dengan lembut pinggangku. aku berbagi cerita soal kerja-kerja sosial yang kulakukan, serta winih-winihan yang kutemui dan kudapatkan ilmunya dari Yogyakarta bagian Selatan. Sorgum, Cantel, Jali-Jali dan Pari Putu. Sempat Ibu mengernyit keheranan, bagaimana anaknya belajar suatu hal yang sungguh abstrak, bahasa dan sastra akan tetapi yang ia dapatkan justru tanah dan juga tumbuh-tumbuhan. Ah, Ibu, panjang ceritanya!

Tapi, perkara pari putu membangkitka ingatan iu tentang banyak hal. Tentang kawan kecilnya dan juga nostalgia akan cerita dirinya kecil sebagai anak petani tulen. Dari garis keturunan Ibu, aku merupakan generasi yang tidak secata langsung dibesarkan dengan budaya pertanian. Ayahku bekerja sebagai karyawan swsta, di waktu senggangnya baru mengurus sawah kecil di tanah Ibu lahir. Ibu tidak secara penuh bertani dari mudanya. Jauh berbeda denganku, masa kecil ibu melihat dan merasakan langsung ibunya (nenekku) melakukan sistem produksi pertanian secara langsung, sedang ayahnya (kakekku) sudah meninggal sejak dirinya kecil. Meskipun aku sempat menemani nenekku untuk memasak di tungku saat aku masih belia, namun saat ini aku sendiri sudah fasih dengan sistem produksi pangan modern (bahkan tergantung sebagian besar dari pasar). 

Dengan bercerita tentang Cantel, Ibu mengingat masa kecilnya yang menemukan Cantel di panenan milik Simbok. Juga tentang pari(padi) yang harus dipanen satu-satu dengan ani-ani. Kata Ibu, ia memiliki teman sepantaran yang masih membujang hingga sekarang di desa sebelah. Dalam satu potomng percakapan, ia menceritakan bahwa Pak A ini masih membudidayakan padi yang memanennya menggunakan ani-ani. Ia tidak pernah menjulanya di Pasar Talun maupun tengkulak yang biasa kutemui di Blondo. 

Cerita itu tidak pernah selesai, dan Ibu sudah terlelap dalam tidur. Malam itu Ibu tidur di kamarku. Kita seperti Induk kucing yang tertidur dengan anaknya. Hangat dan Aman meskipun di luar badai menggelegar dan menyalak-nyalak seperti gonggongan malam yang tak juga mendapat jawaban. 




Komentar

Postingan Populer