Sesuatu yang berubah, suatu keniscayaan.



 Hari ini hujan. Mendulang angin dan badai yang tengah kencang-kencangnya. Sudah beberapa waktu kebelakang ia minta tumbal. Lalu dua orang manusia (bapak beserta anaknya) direnggut di suatu jalan dekat kampus ternama di Jogja. Hujan kali ini membawaku pada salah satu kafe di bawah bangunan oleh-oleh terkemuka Jl. Rejowinangun, Gedongkuning. Aku berharap untuk berteduh pada nostalgia delapan tahun silam. Kehangatannya dan juga jejak-jejak yang aku tinggalkan.

Melewati basement, aku parkiran motor. Pada tiang-tiang interior luar aku masih kenal betul atas mural dengan spray paint Anagard, ketjilbergerak dan dagingtumbuh-nya Mas Eko. Tak sabar aku menghirup kembali wangi kopi arabika yang jadi ciri utamanya. Pintu kubuka perlahan. 

Putih.

Aku seperti bangun dari koma panjang dan menemui diri pada plafon putih. Jembatan atas batas ambang kesadaran.

Kedai telah menjadi entitas baru dengan plafon putih sepenuhnya. Tak ada gambar manual dengan kapur untuk menu di belakang bar barista. Tak ada sekat karung di bagian entrance. Tak ada meja bar barista dengan interior kayu. Tak ada mural Anagard di tembok sisi timur. Tak ada buku-buku dan tanaman hias indoor di antara panel kayu di dinding sisi utara. Tak ada hand- lettering untuk biji kopi arabika yang tersedia. Dan tak ada aroma yang membawaku kembali pada delapan tahun silam dari mesin espresso yang terlihat kinclong itu. Terlihat asing dan baru. 

Aku memesan manual brew. V60. Arabika ijen. 

Delapan tahun lalu aku tidak sebegitu perhatian dengan kopi. Jadi andalanku ke kedai ini ialah cokelat panasnya yang kental dan gurih tidak kemanisan. Biasanya ketika hujan cukup deras dan aku kemari maka cokelat panas italian jadi andalanku. Tapi sepertinya mereka telah membuang menu andalanku itu, yang ada hanya cokelat panas titik, tak ada french atau italian-nya.

Jiwa kedai ini ada pada interior cokelat, kayu dan juga hand lettering manual dengan kapur. Aku ingat kali pertama mengikuti satu meet-up komunitas lettering di Jogja di sini tempatnya. Kami menuliskan alfabet di atas doilies paper. Bercakap-cakap dan bertukar sapa. Aku berada pada tahun pertama sekolah menengah atas. Komunitas hand-lettering ini sudah kuikuti sejak lama, turut berkembang juga bisnis kecil-kecilan yang tidak tentu bukannya yakni lettering dan lukisan manual sejak sekolah menengah ketika aku masih culun-culunnya.

Kedai ini jadi ruang eksplorasi pengalaman pertamaku di usia remaja. Komunitas baru. Kelompok teman dan diskusi-diskusi filsafat kelas playgroup serta ruang kesendirian untuk memikirkan lebih dalam preubahan-perubahan fase remaja. Kebiasaan-kebiasaan baru serta pemahaman akan kehidupan sosial dan budaya yang jauh lebih kompleks dari yang kualami atau kubaca selama ini.

Aku punya dua kawan yang dekat yang kemanapun akhirnya kita akan kemari juga. Membicarakan hal-hal muluk yang lebih besar dari umur kita. Berdialektika dan juga memoles ego dan kritik akan tatanan sosial - politikal dari lingkup yang terkecil kami hingga ke yang lebih luas lagi. Kami rasa kedai ini terletak cukup strategi tapi juga cukup tersembunyi dibandingan dengan lokasi lain. Maklum lah, bocah ingusan SMA tak begitu punya kebebasan lebih buat hangout ke tempat-tempat yang lebih jauh lagi. 

Secara latar belakang kami bertiga berbeda, hal itu yang memengaruhi cara pandang kami dan juga bagaimana kami mengambil keputusan. Satu kawanku dari Surakarta memiliki cara pandang yang cukup tajam dan locally rooted, lebih awal mengenal medan sosial di lingkungan kami dan cukup adaptif di mana ia berada. Kadang-kadang motivasinya tak terbaca dengan cukup jelas, diplomatis dan kadang punya kemampuan buat memengaruhi yang cukup kuat. Berbicara dengan metafora dan sarkasme, aku kadangkala menjaga jarak political interest-ku kepadanya (sejujurnya pada siapapun saat itu), tapi aku yakin orang yang bisa dipegang perkataan dan perbuatanya. Lain halnya dengan temanku yang berasal dari Jakarta. Kami sama-sama perantau. Dia jauh lebih bisa dibaca dan jujur akan apa yang dia suka maupun sebaliknya. Relasi kami dekat karena beberapa irisan sosial-akademik yang ada. Referensi bacaannya banyak dan pemahamannya akan hal-hal akademis yang teoritis juga mumpuni. Berkenalan dengannya membuatku terbiasa mengutip beberapa hal yang kutemui di buku dan mengikuti isu-isu sosial yang lebih luas lagi. 

Mungkin ada beberapa hal yang kontradiktif dari dukungan kami satu sama lain, bagaimanapun kami bukanlah trio yang tak terpisahkan satu sama lain atau trio kwek-kwek seperti tokoh protagonis serial novel coming of age. Kenyataannya kita berpegang pada nilai-nilai yang cukup independen yang ada untuk saling mengintervensi beberapa tindakan satu sama lain secara politis. Bagian dari diriku saat ini terpengaruhi akan pertemanan ini, dan aku bersyukur akannya. 

Ada beberapa penyesalan yang mampir saat kuingat-ingat lagi beberapa tahun silam yang telah kutinggalkan. Bagaimanapun, memori itu bias akan suasana dan waktu. Mungkin beberapa suara di hatiku merasa menyesal atas kepayahanku untuk merawat relasi pertemanan yang terpisah ruang dimana kami menemukan diri sendir. Namun, selayaknya kedai yang sudah berganti nama dan juga suasana. Manusia berubah, begitu pula relasi yang ada bersangkutan dengannya. Relevansi relasi yang ada di antara aku saat ini dan juga aku pada delapan tahun silam tentu berbeda. Begitu pula kawan-kawanku. Mereka merekah dan membawa warna dan aromanya pada dunia. Melihat mereka menjadi dirinya saat ini dan berdampak kepada lingkungannya membuatku mengaminkan banyak hal termasuk mimpi-mimpi dan harapan yang tanpa aku di dalamnya. 

Kopiku belum selesai diseduh. Adzan ashar mengiringi hujan yang sudah mereda, rasa keterasingan itu masih ada tapi aku selalu hapal dimana letak toilet dan mushola yang sama sejak delapan tahun lamanya. 



Yogyakarta, 29 Januari 2026.


Komentar

Postingan Populer